Pada 26 September 2023, gedung di jalan Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros itu, akhirnya hanya menyisakan rangka. Atap dan beberapa dindingnya sudah dirobohkan. Sebuah bangunan yang seharusnya menjadi penanda perjalanan kabupaten ini. Sebuah tempat yang menjadi tangga perjalanan pemerintahan awal wilayah ini/Dok. Aliansi Peduli Budaya Maros.
Pada 26 September 2023, gedung di jalan Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros itu, akhirnya hanya menyisakan rangka. Atap dan beberapa dindingnya sudah dirobohkan. Sebuah bangunan yang seharusnya menjadi penanda perjalanan kabupaten ini. Sebuah tempat yang menjadi tangga perjalanan pemerintahan awal wilayah ini/Dok. Aliansi Peduli Budaya Maros.
/

Membincangkan Kegentingan Situs Cagar Budaya di Maros

Diskusi ini digelar akibat sejumlah bangunan situs cagar budaya di Kabupaten Maros yang mengalami perbaikan tidak melalui mekanisme bahkan diratakan dengan tanah.

Maros – Bollo.id — Aliansi Peduli Budaya menggelar diskusi “Membincangkan Situs” dengan tema “Lanskap atau sekadar bangunan yang dilaksanakan di Perpustakaan Daerah Maros”, pada Jumat sore 27 Oktober 2023.

Diskusi ini digelar akibat sejumlah bangunan situs cagar budaya di Kabupaten Maros yang mengalami perbaikan tidak melalui mekanisme bahkan diratakan dengan tanah.

Diskusi itu sendiri mengundang sejumlah narasumber dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Maros, Arkeolog, Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Maros, Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perhubungan dan Pertanahan (DPUTRPP) Maros, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Maros, Badan Pengelola Geopark Maros-Pangkep, dan ditanggapi langsung oleh Tokoh Pencinta Alam Sulsel dan Akademisi.

Namun, beberapa narasumber tidak hadir. Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perhubungan dan Pertanahan (DPUTRPP), TACB Maros, hingga Pengelola Geopark Maros Pangkep.

Jubir Aliansi Peduli Budaya, Yohannes, mengungkapkan jika sejumlah pihak memiliki alasan ketidak hadirannya dalam diskusi yang dihadiri sejumlah elemen masyarakat pemerhati budaya.

“Kepala DPUTRPP kita undang tapi ia sedang di Jakarta dan tidak ingin mengirim perwakilannya untuk mengisi diskusi,” kata Yohannes.

“TACB sendiri awalnya akan dihadiri oleh Sekretarisnya Lory tapi tiba-tiba sakit. Sedangkan dari Pihak BP Geopark Maros Pangkep telah dimandatkan ke salah satu anggotanya tetapi tidak kunjung hadir.”

Dalam Diskusi tersebut anggota DPRD Maros, Andi Rijal, menyarankan agar Aliansi Peduli Budaya menyurati sekretariat DPRD Maros, agar dilaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP).

“Sejatinya alur diskusi seperti ini biar yang diundang hadir, mungkin bisa aliansi untuk menyurat ke kami, untuk kita lakukan RDP,” kata Andi Rijal.

“Karena jujur saja, kita di DPRD hanya fungsi penganggarannya, untuk lokasi suatu kegiatan itu kita serahkan ke eksekutif. Nah ketika terjadi hal yang kita diskusikan seperti ini, kami sarankan untuk kita RDPkan.”

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Ceritaan

ollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut.
Skip to content