Lebaran adalah satu dari sedikit momen ketika masyarakat Indonesia secara kolektif sepakat menyebut sesuatu yang belum selesai sebagai selesai. Dalam beberapa jam, jutaan keluarga berkumpul, berjabat tangan, dan mengucapkan maaf lahir dan batin. Dunia terasa lebih ringan. Konflik tampak mereda. Relasi seolah utuh kembali.
Namun, ringan yang terjadi sering kali hanya permukaan. Di bawahnya, retakan tetap ada dan data menunjukkan bahwa retakan itu justru membesar.
Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan, keluarga Indonesia mengandalkan utang konsumtif untuk memenuhi kebutuhan. Angka itu telah mencapai sekitar Rp98,54 triliun pada Januari 2026, naik dari Rp96,62 triliun pada akhir 2025. Bahkan, masih diproyeksikan tumbuh sekitar 15 persen sepanjang 2026. Pola ini konsisten berulang, terutama pada momen musiman seperti lebaran, ketika kebutuhan belanja meningkat tajam.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Kesetaraan Semu
Tradisi yang digambarkan sebagai momen kesetaraan ini, dalam realitas ekonomi, justru menjadi sumber ketimpangan yang diperparah.
Di Sulawesi Selatan, fenomena ini terlihat jelas. OJK Sulselbar mencatat lonjakan pinjaman daring dari tahun ke tahun. Pada 2024 mencapai 1,7 triliun, lalu naik Rp2,39 triliun pada Desember 2025. Bahkan meningkat di momen ramadan. Bukan kebetulan bahwa peminjam mengaku berutang agar “tidak kalah” dengan tetangga saat arisan lebaran.
Ketika proses pemulihan dipadatkan menjadi kewajiban sosial, yang lahir bukanlah penyembuhan, melainkan kesepakatan untuk tidak membuka kembali apa yang menyakitkan. Kita menamainya damai. Padahal yang terjadi adalah penundaan.
Apa yang tidak selesai tidak menghilang. Ia berubah bentuk.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa momen Idulfitri tidak hanya menghadirkan kelegaan emosional, tetapi juga tekanan psikologis, terutama karena ekspektasi sosial dalam keluarga. Dalam suasana silaturahmi, konflik sering kali mereda sementara, tetapi memerlukan komunikasi terbuka agar tidak kembali muncul setelah perayaan.
Temuan lain dalam studi sosial-ekonomi juga menunjukkan bahwa tekanan tersebut dapat mendorong sebagian masyarakat meningkatkan konsumsi, bahkan melampaui kemampuan finansial, demi memenuhi standar sosial lebaran.
Ini bukan penyelesaian. Ini adalah manajemen konflik.
Dalam pengertian ini, lebaran adalah mekanisme sosial yang sangat efektif. Ia memungkinkan kita melanjutkan hidup tanpa harus berhadapan sepenuhnya dengan retakan yang ada. Dan tidak semua konflik bisa atau perlu dibongkar sekaligus. Namun, ketika kerapian menggantikan penyelesaian, kita mulai hidup dalam kebiasaan yang berbahaya: merasa selesai sebelum benar-benar mengerjakan apa yang belum selesai.
Siklus Konflik
Kebiasaan itu tidak berhenti di ruang personal. Ia membentuk cara kita membaca dunia. Cara kita mengelola konflik di ruang personal sering kali muncul kembali dalam skala yang lebih besar.
Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di sisi lain, menunjukkan dinamika yang lebih jujur. Tidak ada momen di mana mereka benar-benar “berdamai”. Yang ada adalah siklus: ketegangan, negosiasi, jeda, lalu ketegangan lagi. Setiap jeda sering disalahartikan sebagai kemajuan, padahal ia hanya waktu yang dibeli.
Setelah JCPOA 2015, sanksi terhadap Iran tidak benar-benar dihapus, hanya dilonggarkan dengan mekanisme yang bisa dibalik sewaktu-waktu. Ketika Donald Trump menarik diri dari perjanjian itu pada 2018, sanksi kembali dalam 180 hari. Dunia internasional tidak mengenal penyelesaian instan. Negara tidak memaafkan; mereka mengingat, menghitung, dan bertindak berdasarkan kepentingan yang tak pernah benar-benar hilang.
Di tingkat personal, kita mempertahankan keyakinan bahwa konflik bisa ditutup dengan cepat, bahwa harmoni bisa dipulihkan tanpa biaya yang panjang. Lebaran memperkuat keyakinan itu—bukan karena ia salah, tetapi karena ia terlalu meyakinkan. Ia memberi bentuk pada sesuatu yang kita butuhkan: rasa bahwa segala sesuatu bisa kembali seperti semula.
Masalahnya, hampir tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula. Hal yang sama terlihat dalam dimensi sosial-ekonomi. Ia sering disebut momen kesetaraan, ketika semua orang kembali pada posisi yang sama, saling berbagi, saling merendahkan diri. Namun, kesetaraan ini bersifat sementara, bahkan semu. Ia berlangsung di permukaan, tanpa mengubah struktur yang menentukan siapa yang mampu memberi dan siapa yang harus menahan diri.
Di Makassar, ketimpangan tak perlu dijelaskan panjang. Ia tercatat dalam angka—data Badan Pusat Statistik daerah menunjukkan rasio gini kota ini mencapai 0,375 pada Maret 2025, sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata Sulawesi Selatan.
Angka itu tidak mencolok, tapi cukup untuk menjelaskan satu hal. Kesenjangan hidup berdampingan dengan keseharian, terutama di kota. Ia tidak selalu tampak sebagai krisis, melainkan sebagai jarak yang pelan-pelan dinormalisasi.
Lebaran, dengan demikian, tidak menghapus ketimpangan. Ia menundanya atau lebih tepatnya, membungkusnya dalam bahasa yang lebih dapat diterima. Seperti dalam konflik global, masalah tidak diselesaikan. Ia hanya dipindahkan ke ruang yang tidak mengganggu perayaan.
Tetapi ilusi yang terus-menerus dipelihara akan membentuk cara kita berpikir.
Kita mulai percaya bahwa simbol cukup. Bahwa niat bisa menggantikan perubahan. Bahwa mengatakan maaf sama dengan memperbaiki. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya persoalan personal, tetapi juga politik. Ia membuat kita lebih mudah menerima penyelesaian yang dangkal di rumah, di masyarakat, bahkan dalam cara kita memahami konflik global.
Padahal, baik dalam relasi manusia maupun antarnegara, penyelesaian selalu menuntut sesuatu yang lebih sulit. Perubahan nyata.
Perubahan itu tidak terjadi dalam satu hari. Ia membutuhkan waktu, ketidaknyamanan, dan kesediaan untuk tetap berada di dalam konflik tanpa segera menutupnya. Ia menuntut kita untuk tidak hanya mengucapkan, tetapi juga mengerjakan; memperbaiki pola, mengubah relasi, dan, jika perlu, menantang struktur yang membuat konflik itu terus berulang.
Tidak ada ritus yang bisa menggantikan itu.
Di pagi lebaran, ketika tangan-tangan saling bersentuhan dan kata maaf diucapkan, sesuatu memang terjadi. Ada niat untuk memperbaiki. Ada pengakuan bahwa sesuatu pernah salah. Ada kemungkinan untuk bergerak ke arah yang berbeda.
Tetapi itu bukan akhir. Itu hanya awal yang sering kita salahpahami sebagai penutup.
Dan mungkin di situlah persoalan sebenarnya. Kita tidak kekurangan niat untuk berdamai, tetapi kekurangan kesabaran untuk menjalani apa yang dituntut oleh perdamaian itu sendiri.
Ritual memiliki tempatnya. Ia mengingatkan kita pada yang ideal. Namun, ketika ritual menggantikan kerja, kita tidak sedang merawat tradisi, melainkan menghindari tanggung jawab.
Lebaran selesai. Konflik belum.
Dan yang belum selesai itu, pada akhirnya, akan menunggu.
