Eksplainer
Bollo.id — Setiap pulau di Indonesia memiliki destinasi wisata dengan kekhasan masing-masing, dari budaya hingga bentang alam. Keragaman ini membuat pariwisata menjadi sektor yang menarik jutaan orang setiap tahun.
Contohnya, Tana Toraja di Sulawesi menawarkan situs sejarah dan ritual unik, sementara Borobudur dan Prambanan di Jawa menjadi daya tarik karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang mendunia.
Raja Ampat di Papua dikenal dengan lautnya yang jernih, sedangkan sejumlah desa di Kalimantan Barat menawarkan pengalaman budaya Dayak yang kuat. Di Sumatra, Gunung Kerinci menjadi tujuan populer bagi pendaki. Semua destinasi ini memberi pengalaman visual yang memanjakan mata dan kamera.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Sejak dulu, orang memilih berwisata untuk mencari ketenangan dan hiburan. “Bepergian ke destinasi yang menenangkan seperti pegunungan atau pantai diyakini memberi efek relaksasi serta pemulihan emosional,” tulis Ayu dkk dalam Healing Journey: Menggunakan Pariwisata sebagai Sarana Self Healing (2025).
Saat berlibur, kita terlepas sejenak dari rutinitas yang padat. “Interaksi dengan alam, aktivitas santai, dan pengalaman sosial positif membantu seseorang mencapai ketenangan batin, mengurangi stres, serta memberi perspektif baru atas masalah hidup,” lanjut Ayu dkk.
Efek positif itu kemudian menyebar melalui media sosial. Meski tidak mengalaminya langsung, orang-orang tetap merasa terhubung dan ikut menikmati pengalaman wisata melalui layar. Media sosial juga menjadi faktor penting yang menarik perhatian wisatawan.
“Video promosi sangat memengaruhi keputusan berkunjung karena membuat orang merasakan atmosfer destinasi secara tidak langsung,” tulis Fikri dkk dalam Jurnal Manajemen Tools (2019).
Namun, di balik keindahan yang memenuhi mata dan kamera, pariwisata juga memberi tekanan besar pada lingkungan. “Tekanan ini meningkat seiring bertambahnya jumlah pengunjung dan pembangunan infrastruktur pendukung, yang memicu kenaikan limbah padat dan cair serta persoalan sanitasi,” tulis Nofriya dkk dalam Jurnal Teknik Lingkungan Universitas Andalas (2019).
Jadi, Bagaimana Kita Bisa Healing Tanpa Menyakiti Alam?
Paradoks ini bisa diatasi dengan membatasi wisatawan di destinasi rentan, menerapkan wisata berkelanjutan, menahan pembangunan berlebihan, memperketat pengelolaan limbah, serta mengedukasi wisatawan agar menjaga alam.
Healing tetap bisa terjadi—tanpa membuat alam semakin sakit. Pariwisata memberi banyak manfaat bagi manusia, terutama sebagai sarana pemulihan emosional. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, alam menanggung beban berat dari aktivitas wisata. Paradoks “menyembuhkan manusia tetapi menyakiti alam” muncul ketika kebutuhan manusia tidak diimbangi dengan perlindungan lingkungan.
Tantangannya sekarang adalah memastikan bahwa healing tidak hanya menjadi milik manusia, tetapi juga milik alam.
Editor: Kamsah Hasan
