Harga Nikel, Harga Hidup

Anjloknya harga komoditas memicu PHK, memaksa buruh di Bantaeng menata ulang masa depan.

Salah satu rumah warga yang diselimuti debu berwarna kemerahan di sekitar areal industri smelter Huadi Group, Kawasan Industri Bantaeng. Setiap hari warga harus membersihkan debu tebal di teras rumahnya. Bukan hanya pada lantai rumah, bahkan atap rumah warga sampai berwarna merah karena tebalnya debu tersebut/Iqbal Lubis untuk Bollo.id
Salah satu rumah warga yang diselimuti debu berwarna kemerahan di sekitar areal industri smelter Huadi Group, Kawasan Industri Bantaeng. Setiap hari warga harus membersihkan debu tebal di teras rumahnya. Bukan hanya pada lantai rumah, bahkan atap rumah warga sampai berwarna merah karena tebalnya debu tersebut/Iqbal Lubis untuk Bollo.id

“Mau ka berharap sama apa lagi?”

Kasim (40) mengucapkannya pelan. Sejak kehilangan pekerjaan di Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan, ia tak hanya kehilangan penghasilan tetap, tetapi juga rasa aman sebagai kepala keluarga. Pikiran tentang kebutuhan rumah tangga dan masa depan anak-anaknya datang silih berganti.

Gelombang pemutusan hubungan kerja di kawasan industri itu bukan kabar yang sepenuhnya mengejutkan. Isu efisiensi dan pengurangan tenaga kerja telah lebih dulu beredar di antara para buruh sebelum keputusan resmi diumumkan.

Tekanan terhadap industri nikel pun terasa. Pada 2025, harga nikel dunia tercatat anjlok hingga USD 15.078 per ton—terendah sejak 2020, berdasarkan data S&P Global. Penurunan itu berdampak pada produksi dan kebijakan perusahaan.


Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.

Donasi melalui: bit.ly/donasibollo


Yoyo (23) termasuk yang sudah lama mengantisipasi kemungkinan terburuk itu. Sebagai buruh tambang, ia sadar pekerjaannya tak lepas dari risiko.

“Pasti mi kalau risiko,” katanya, Rabu, 18 Februari 2026.

Ketika PHK benar terjadi, ia memilih tak berlama-lama terpuruk. Kini ia beralih menjadi petani kebun di Bantaeng.

“Apapun itu kerjaannya, saya siap kerjakan ji,” ujarnya.

Ayu (25) juga tak benar-benar terkejut saat namanya masuk daftar pekerja yang diberhentikan dari perusahaan yang berafiliasi dengan Huadi Group. Isu PHK massal sudah lama berembus.

“Kalo kaget, nda ji sih karena jauh sebelum (saya) di-PHK itu sudah banyak mi isu beredar bilang ‘Bakalan ada PHK massal’,” katanya.

Ia sempat mendapat panggilan wawancara kerja di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Namun, bayangan merantau dan kembali bekerja di tambang membuatnya ragu.

“Sampai di panggilan interview ke-3 mi itu baru saya tolak karena menurutku merantau dan kerja tambang sekaligus akan berat sekali untuk saya.”

Jika Yoyo segera beralih dan Ayu memilih menimbang ulang langkahnya, Kasim memikul beban berbeda. Sebagai tulang punggung keluarga, kehilangan pekerjaan berarti kehilangan kepastian. Perlahan, ia kembali menggarap kebun untuk menyambung hidup. Penghasilan memang tak sebesar dulu, tetapi cukup untuk bertahan. Istrinya turut membantu lewat toko kebutuhan pokok sederhana yang mereka kelola.

Perubahan itu juga dirasakan Atika (19), anak sulungnya. Sebagai mahasiswa dan anak pertama dari tiga bersaudara, ia mulai lebih cermat mengatur uang dan menekan pengeluaran.

PHK, bagi keluarga ini, bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Ia memaksa mereka menata ulang cara bertahan. Dari tambang ke kebun, dari gaji tetap ke penghasilan yang tak menentu.


Editor: Kamsah Hasan

Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Ia menyukai menulis pertanian, kota, dan penjelasan singkat mengenai sesuatu.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Berita Terbaru

Kebun Panen, Kebun Teror

Intimidasi perusahaan mengubah lahan panen warga di Konawe Selatan menjadi ruang ketakutan yang berkepanjangan.