Eksplainer
Bollo.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu persoalan di berbagai daerah. Dari Palu hingga Raja Ampat, puluhan siswa jatuh sakit setelah menyantap makanan yang disiapkan dapur MBG. Polanya berulang hampir setiap bulan sepanjang tahun ini, menandakan masalah yang lebih besar ketimbang sekadar kelalaian di dapur.
Pada September, puluhan siswa di Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengalami gejala keracunan. Kasus serupa muncul di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang memaksa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat ditutup sementara pada Oktober. Sebulan kemudian, puluhan siswa di Kota Cirebon, Jawa Barat, juga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Awal Desember ini, polisi mulai menyelidiki pengelola dapur MBG di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya, buntut laporan puluhan siswa yang mengalami tanda-tanda keracunan makanan.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Data Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan skala persoalan ini tidak kecil. Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR pada 12 November lalu, Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut ada 211 kasus keracunan pangan terkait MBGsepanjang tahun. Per 11 November 2025, Pulau Jawa menjadi wilayah dengan kejadian luar biasa (KLB) tertinggi: 7.925 warga terdampak. Dari 14.773 dapur MBG yang beroperasi, 14.189 telah terverifikasi, sementara 584 dapur belum memiliki verifikasi kelayakan, termasuk kewajiban kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi dari Dinas Kesehatan.
Ketiadaan verifikasi itu membuka celah persoalan higienitas. Padahal BGN mewajibkan sterilisasi food tray dan penggunaan air bersertifikat untuk memasak dan mencuci peralatan. Standar ini sulit dipenuhi di dapur yang tidak lulus pemeriksaan sanitasi.
Bakteri Makanan
Salah satu sumber risiko adalah kontaminasi bakteri patogen. Penelitian Apriliansyah dkk. (2022) mengidentifikasi bakteri yang paling sering menyebabkan keracunan pangan di Indonesia: Staphylococcus aureus (30 persen), Bacillus cereus (26,67 persen), Salmonella spp. (16,67 persen), Escherichia coli (16,67 persen), dan Clostridium spp. (6,67 persen). Gejalanya meliputi mual, muntah, diare, sakit perut, demam, gatal-gatal, gangguan pernapasan, hingga gangguan penglihatan.
Bahan pangan yang rentan seperti daging ayam, daging sapi, ikan, sayur, dan olahan beras dapat terkontaminasi sejak tahap pemotongan, penyimpanan, atau pengolahan. Bacillus cereus, misalnya, dapat menyebabkan muntah dan diare dalam 3–5 jam setelah konsumsi. Sementara Salmonella spp. menimbulkan kram perut, demam, lesu, ruam, hingga sakit kepala.
“Kasal keracunan pangan membutuhkan penanganan khusus sehingga diperlukan pelaporan kasus kepada pihak berwenang,” tulis Apriliansyah dalam Jurnal Farmasi Klinik Indonesia (2022).
Kerap kali persoalan muncul dari titik yang sama; dapur yang tidak higienis. “Daging ayam mudah mengalami kerusakan apabila tidak mendapat perlakuan yang tepat. Salah satu cemarannya adalah bakteri patogen Salmonella sp.,” tulis Zelpina dkk. dalam Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases (2020).
Bakteri ini dapat berpindah dari satu bahan ke bahan lain melalui kontaminasi silang jika peralatan tidak dicuci dengan benar atau penjamah makanan tidak menjaga kebersihan diri.
“Kontaminasi Salmonella kemungkinan disebabkan oleh praktik higiene penjamah makanan, kondisi kesehatan penjamah, sanitasi dapur, fasilitas limbah, serta kebersihan peralatan makan dan masak,” kata Nugraheni dalam Skripsi Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (2015).
Rangkaian kasus keracunan makanan memperlihatkan pola yang sama. Menurut Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, Prof. Sri Raharjo, masalah ini bukan sekadar kelalaian dapur.
“Saya kira kasus ini memperlihatkan adanya kegagalan sistemik dalam proses penyiapan, pengolahan, maupun distribusi makanan,” kata Raharjo, Jumat, 29 Agustus, dikutip dari laman UGM.
Program MBG memayungi jutaan penerima manfaat dan ribuan dapur yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa pengawasan ketat dan pemenuhan standar sanitasi, program yang dirancang untuk memperbaiki gizi justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan publik yang serius. Piring gratis, tapi dengan bahaya yang nyata.
Editor: Kamsah Hasan
