Centre Point Indonesia (CPI)/Andi Audia Faiza Nazli Irfan
Centre Point Indonesia (CPI)/Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Makassar dalam Angka Kekerasan

Data kriminal menunjukkan tingginya rasio kekerasan di Makassar, sementara rasa aman warga kian rapuh di ruang publik.

Bollo.id — Bagaimana gambaran kekerasan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Salah satu cara mengetahuinya adalah melihat data BPS Sulsel (2024): setiap 100.000 penduduk, terdapat 524 kejadian tindak pidana dalam periode tertentu (biasanya 1 tahun)—bukan 524 orang pasti jadi korban.

Ini menandakan bahwa bisa satu orang mengalami lebih dari satu kejadian. Ia juga menandakan bahwa bisa satu kejadian melibatkan lebih dari satu korban. 

Rasio kejadian bisa menjawab seberapa intens kejahatan terjadi dan membandingkan kerawanan menurut wilayah. Rasio kejadian di Makassar mirip rasio di Kota Palopo, Sulsel dengan angka 563.


Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.

Donasi melalui: bit.ly/donasibollo


Data itu menjawab gambaran nyata tentang kekerasan, salah satu bentuk tindak pidana. Namun, ia tidak menjawab siapa yang akan jadi korban atau apakah kamu aman hari ini.

Data itu memberikan kewaspadaan kolektif. Ketakutan itu tidak menunggu giliran menjadi korban.

Salah satu kekerasan, pembegalan adalah contoh kekerasan yang mudah terpantau frekuensinya karena terjadi di ruang publik dan sering terjadi tiba-tiba. Ia melibatkan ancaman langsung (senjata atau kekerasan fisik).

Secara psikologis, ini mengurangi bahkan menghilangkan rasa aman. Ia membuat ruang publik terasa asing dan memicu waspada berlebihan.

Data atau angka menjadi pemicu trauma tidak langsung. Membaca berita dan mendengar cerita cukup untuk memicu kecemasan. 

Angka 524 di Makassar itu menjadi “kemungkinan”. Statistik membuat semua orang merasa “hampir jadi korban”.


Baca juga: Peta Kekerasan di Sulsel 2025: Catahu LBH Makassar


Salah satu area yang mudah dijangkau banyak orang adalah sekitaran Centre Point Indonesia (CPI). Pada satu sisi, keramaiannya memeriahkan Makassar, tapi ia juga bisa memunculkan kecemasan karena peluang tindakan kriminal. 

Pada Januari lalu, seorang mahasiswa yang sudah beraktivitas di CPI itu dibegal saat perjalanan pulangnya. “Sekelompok remaja tiba-tiba memburu korban. Salah satu dari remaja tersebut melontarkan anak panah (busur) ke arah korban yang mengenai paha kiri korban,” kata Kanit Reskrim Polsek Tamalate, Iptu Latif dalam keterangannya, dikutip pada Kamis, 5 Februari 2026. 

Peristiwa merugikan itu menjadi salah satu kejadian yang berpeluang diingat kapan saja dan di mana saja. Sembilan tahun lalu, Bobi (30) mengingat kembali dirinya yang dicegat dan diancam dijarah oleh kelompok orang tidak dikenal di Jalan Hertasning, Makassar yang masih sepi kala itu. 

Bobi menolak dan melawan, tapi ia kemudian dikeroyok hingga membuatnya pingsan. Kejadian itu membuatnya lebih berhati-hati dengan jam malam dan rute pulang.

“Kalau untuk sekarang ini, jangan pulang terlalu tengah malam terlebih jam 1 sampai jam 4 subuh. Terus hindari jalanan yang rawan,” pesannya saat ditanyai kesan melintasi jalan saat malam hari, Selasa, 3 Februari 2026.

Di jalanan itu, rasa aman bisa lenyap dalam hitungan detik. Suasana heningnya dapat menyentuh sisi paranoid manusia. Kekerasan tidak hanya menyasar fisik, tapi juga mental manusia. 


Editor: Kamsah Hasan

Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Ia menyukai menulis pertanian, kota, dan penjelasan singkat mengenai sesuatu.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Fokus

Kebun Panen, Kebun Teror

Intimidasi perusahaan mengubah lahan panen warga di Konawe Selatan menjadi ruang ketakutan yang berkepanjangan.

Generasi Seribu Peran

Generasi Z yang tumbuh dalam ekonomi serba genting: fleksibel karena terpaksa, tangguh karena keadaan.