Bollo.id — Banjir meninggalkan ingatan bagi setiap orang. Ia berdampak secara psikologis, mengubah cara pikir dan memengaruhi kebiasaan.
Daerah rumah Basuki di Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar merupakan daerah langganan banjir. Setiap tahun, banjir dangkal akan terjadi setiap musim hujan.
Ia mengingat banjir yang terjadi kepadanya pertama kali, yaitu pada 2018. Sore hari itu, di daerah rumah yang jalannya agak tinggi daripada pondasi rumah, banjir menggenangi seisi rumahnya.
Banyak perabotan rumah yang tidak layak dan tidak berfungsi sejak itu. Warga perumahan kemudian mengganti bahan perabotan rumah tangga mereka, dari kayu menjadi plastik.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Mengganti perabotan, sebuah kewaspadaan. Ia adalah bentuk adaptasi terhadap daerah rawan banjir dan kejadian berulang.
Perubahan itu termasuk tindakan mengurangi rasa cemas, salah satu cara coping mechanism. Ia menjadi cara menghadapi emosi negatif.
“Spring bed selalu mi ku tempatkan di atas kursi,” katanya tentang caranya mengantisipasi barang dari banjir, Kamis, 4 Desember 2025.
Pada 2022, air tidak setinggi seperti biasanya, yaitu hanya sebatas tumit atau lutut. Saat itu, ia setinggi dada orang dewasa.
Baca juga: Yang Bertahan di Dapur: Perempuan dan Banjir yang Enggan Surut
Laptop, pendamping skripsinya, rusak akibat air. Buku-buku dan koleksi kesukaannya yang berharga itu tak terselamatkan lagi.
Pascabanjir kali ini mempengaruhinya untuk kedua kalinya. Banjir meninggalkan trauma baginya.
Sejak itu, pria 26 tahun itu selalu dalam mode siaga. Ia selalu membawa laptopnya ke mana saja.
Ia takut kehilangan lagi. Ia selalu menciptakan rasa aman dan kontrol kepada dirinya sendiri atas banjir.
“Tetap kubawa laptop ke mana-mana. Biar nda ada dibikin-bikin. Itu traumaku sekarang,” lanjutnya.
Berjarak 25 km, banjir juga mempengaruhi Tapi (23) secara psikologis. Banjir telah mengubah caranya menilai realitas.
“Betul-betul mi terjadi di depan. Gowa ini, kena juga,” katanya, Kamis, 4 Desember, saat mengingat kembali banjir besar Kabupaten Gowa pada 2018 lalu.
Awalnya banjir hanya dilihat dari jauh, ditonton di berita, atau dialami orang lain. Kali ini, ia merasa sangat dekat dengan suatu kejadian “peristiwa” sebagai bukan warga terdampak langsung.
Banjir itu mempengaruhinya untuk memandang lingkungan sekitarnya. Ia membentuk caranya menyiapkan diri.
Dulu, ia hanya tahu, sekarang ia betul-betul paham tentang banjir. Ia menyadari dirinya merupakan yang rentan.
Editor: Kamsah Hasan
