Ada nasib ganjil yang menimpa sejumlah kata dalam bahasa kita. Ia tidak berubah karena pengetahuan berkembang, melainkan karena ketakutan bertambah. Kata radikal adalah salah satunya. Ia lahir dari semangat berpikir sampai ke akar, dari keberanian menggugat fondasi, dari hasrat membongkar persoalan hingga lapisan terdalam. Kini, di ruang publik kita, kata itu lebih sering berbunyi seperti alarm bahaya, kekerasan, dan musuh bersama.
Barangkali sebuah masyarakat mulai kehilangan kedalaman justru ketika ia mulai takut pada kata yang mengajaknya berpikir lebih dalam. Sebab kata tidak pernah sekadar bunyi; ia adalah rumah bagi cara kita memahami dunia. Ketika makna radikal dipersempit menjadi sinonim ekstremisme, yang sesungguhnya menyusut bukan hanya satu kata, tetapi juga ruang berpikir.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Secara etimologis, kata radikal berakar dari bahasa Latin radix yang berarti akar. Dari sana lahir pengertian tentang keberanian menyentuh sebab paling mendasar dari suatu masalah. Dalam tradisi intelektual, berpikir radikal berarti menolak berhenti pada gejala. Menolak puas pada daun ketika yang sakit justru tanahnya.
Kemiskinan, misalnya, tidak cukup dibaca sebagai kurangnya pendapatan, tetapi harus ditelusuri sampai ke struktur pendidikan, relasi kuasa, distribusi sumber daya, dan desain kebijakan. Krisis iklim pun tidak selesai dengan slogan menanam pohon, tetapi menuntut pembacaan atas model pembangunan, ekstraksi sumber daya, dan kerakusan ekonomi yang menjadikannya mungkin.
Dengan pengertian itu, radikal sesungguhnya adalah inti dari tradisi berpikir kritis. Jurnalisme yang baik bahkan bekerja dengan semangat yang sama; menggali akar, bukan sekadar memungut permukaan. Setiap laporan investigasi yang menolak puas pada konferensi pers dan memilih menelusuri dokumen, aliran uang, serta jejak kepentingan, pada dasarnya sedang menjalankan etos berpikir radikal.
Namun ruang publik modern jarang sabar pada kerumitan. Dalam logika media sosial dan politik ketakutan, kata-kata diperas menjadi label yang cepat, ringkas, dan mudah dipakai untuk membelah kawan dan lawan. Di titik itu, radikal kehilangan sejarahnya. Ia berubah menjadi cap yang bisa ditempelkan pada siapa saja yang dianggap terlalu berbeda, terlalu keras mengkritik, atau terlalu jauh menggugat keadaan.
Kita takut pada kata radikal justru ketika akar-akar masalah dibiarkan tumbuh liar di depan mata.
Ironisnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia justru menyimpan makna yang lebih tenang. Berpikir mendasar, menyentuh hal yang prinsip, bahkan maju dalam tindakan. Namun, ruang publik kita telah lama membentuk asosiasi yang lain. Melalui pengulangan yang terus-menerus, media massa kerap menempatkan kata ini dalam orbit ancaman seperti terorisme, kekerasan, dan identitas keagamaan tertentu.
Dari sana lahir oposisi yang problematis – “Islam moderat” di satu sisi, “Islam radikal” di sisi lain – seolah keyakinan, kritik sosial, dan ekspresi politik dapat diringkus ke dalam dua label yang saling menegasikan.
Sesungguhnya yang berbahaya bukan hanya salah paham pada sebuah kata, melainkan lahirnya budaya anti-akar. Sebuah kebiasaan kolektif untuk curiga pada pertanyaan yang terlalu mendasar. Kritik atas sistem pendidikan dianggap mengganggu stabilitas. Gugatan atas ketimpangan ekonomi dicurigai sebagai agenda tersembunyi. Demonstrasi ditengarai antek-antek asing. Protes pada Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Protes atas perusakan lingkungan dibaca sebagai sikap anti-pembangunan. Kita akhirnya belajar hidup nyaman di permukaan, seolah kedalaman selalu identik dengan ancaman.
Ketika sebuah kata terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ancaman, ia perlahan membentuk cara kita membaca kritik itu sendiri. Di titik inilah batas antara menjaga keamanan dan membungkam kritik menjadi kabur.
Kita melihat bagaimana suara-suara kritis kerap berhadapan dengan tekanan, bahkan kekerasan. Penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, misalnya, memperlihatkan bagaimana kritik yang terlalu tajam dapat dibaca sebagai sesuatu yang harus diintimidasi. Serangan semacam ini tidak hanya menyasar individu, tetapi juga mengirim pesan yang lebih luas bahwa keberanian menyentuh akar persoalan mengandung risiko.
Padahal sejarah kemajuan hampir selalu bergerak dari keberanian berpikir radikal. Reformasi 1998 lahir bukan dari kepatuhan pada permukaan, melainkan dari keberanian mahasiswa, jurnalis, dan masyarakat sipil menggugat akar otoritarianisme Orde Baru; korupsi, sentralisasi kuasa, dan pembungkaman kritik. Demokrasi menemukan momentumnya justru ketika orang-orang berani bertanya lebih dalam daripada yang dianggap aman oleh zamannya.
Kesadaran tentang hak perempuan tumbuh dari kritik yang menembus akar budaya patriarki. Wacana keadilan iklim bertumbuh karena ada suara-suara yang menolak berhenti pada solusi kosmetik. Hampir semua perubahan besar bermula dari keberanian untuk tidak puas pada jawaban pertama.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita merebut kembali kata ini dari tangan ketakutan. Radikal tidak harus berarti kekerasan. Ia bisa berarti keberanian intelektual untuk terus bertanya. Mengapa masalah ini terus berulang, siapa yang diuntungkan, struktur apa yang membuatnya lestari, dan akar mana yang selama ini sengaja dibiarkan tersembunyi.
Di tengah zaman yang memuja kecepatan, berpikir sampai ke akar justru menjadi tindakan yang semakin langka dan karena itu semakin penting. Kita hidup dalam banjir opini, potongan video, dan slogan yang datang silih berganti. Semua serba permukaan. Mungkin problem terbesar masyarakat kita hari ini bukan terlalu banyak pikiran radikal, melainkan terlalu sedikit keberanian untuk berpikir hingga ke akar.
Kita sibuk merapikan daun-daun yang rontok, tetapi enggan memeriksa tanah yang mulai rusak. Sering kali, sebuah bangsa tidak runtuh ketika kritiknya terlalu keras; ia mulai rapuh justru ketika warganya takut menyentuh akar persoalan.
