Makassar tidak bisa diselamatkan hanya melalui pembangunan. Kota ini hanya bisa dihidupkan kembali jika luka-lukanya dibuka, dipertontonkan, dan dibicarakan.
Panggung pertunjukan seni di Makassar di tengah deforestasi dan bencana ekologis
Tiga pertunjukan monolog perempuan menghadirkan refleksi tentang tubuh, ruang, dan kesadaran ekologis di tengah kota yang retak. Tubuh menjadi bahasa untuk membaca ulang kota.
"Amin dalam Amin" merupakan proyek perdana PPMN yang mengubah liputan mendalam menjadi bentuk teater untuk publik.
Makassar tidak bisa diselamatkan hanya melalui pembangunan. Kota ini hanya bisa dihidupkan kembali jika luka-lukanya dibuka, dipertontonkan, dan dibicarakan.
Kota Makassar bukan sekadar tempat, melainkan sejarah dan memori atau ingatan. Narasi ini yang ingin dibawa ke warga muda.
Kumuh yang melintas-lintas menggambarkan dampak hidup di pemukiman kumuh terhadap kesehatan, lingkungan, sosial, dan ekonomi warga.
Mengeksplorasi dampak psikologis banjir, bukan hanya kerugian materi, tetapi kecemasan, ketakutan, gangguan tidur, dan trauma jangka panjang.
Paksa Pasrah menggambarkan kehidupan buruh harian lepas yang bekerja tanpa perlindungan, menghadapi tekanan dan ketidakpastian.
Matalantas merupakan gabungan kata “mata” (indra penglihatan) dan “lantas” (lalu lintas), menyiratkan metafora kompleks tentang relasi masyarakat dan pemerintah