“Amran Sulaiman, Kamu Jahat Sama Jurnalis!”
Tulisan itu menonjol di karangan bunga berukuran tiga kali tiga meter, berdiri di depan AAS Building, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Pada Selasa siang, 4 November 2025, seorang jurnalis – yang kami sebut Budiman untuk melindungi keselamatannya – sedang berjongkok, tangannya sibuk mengikat pita bunga agar tak rebah diterpa angin. Di sekitarnya, belasan jurnalis, pers mahasiswa, aktivis, dan organisasi independen, hingga masyarakat sipil berdiri di area trotoar.
Kamera terpasang. Spanduk pernyataan terbentang. “Setop Pembungkaman Jurnalis!”
Sebuah aksi damai diselenggarakan Koalisi Advokasi Jurnalis (KAJ) Sulsel untuk mengecam gugatan Rp200 miliar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terhadap media Tempo sedang berlangsung tertib.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Hingga suara itu datang.
Pukul 14:14 WITA. Dari arah gerbang, seorang lelaki berpostur besar melangkah cepat. Topi hitamnya pudar, kacamatanya gelap menutupi wajah. Ia mengenakan kaus panjang warna biru. Suaranya tiba-tiba memecah udara.
“Merapat ke sini!” teriaknya memanggil kawanannya.
Beberapa orang di dekat gerbang menoleh. Budiman yang sedang mengikat bunga itu sempat menengok.
“Saya abaikan,” ujarnya kemudian. Namun, pengabaian itu tak cukup menyelamatkannya.
Tanpa aba-aba, lelaki itu menghantam karangan bunga dari belakang. Bunga protes itu roboh berdebam di trotoar. Dalam sekejap, aksi itu berubah ricuh.
“Saya langsung ditarik,” kata Budiman.
Beberapa kawan aksi berusaha menahannya. Beberapa lelaki dari kelompok pendukung Menteri Pertanian hendak menyeretnya ke arah gerbang AAS Building. Ia melawan. Tarik-menarik terjadi di tengah kerumunan. Suara benturan tubuh dan teriakan panik bersahutan.

Bajunya robek. Dua orang lain ikut memukul. Tinju menghantam ke arah wajahnya. Ia sempat limbung, nyaris tersungkur, sebelum kawan-kawannya menariknya menjauh. Polisi yang berjaga membentuk barikade tipis, tapi langkah lelaki itu terlalu cepat.
Menyeruduk, menyambar, memukul, lalu mundur ke kerumunan pendukungnya.
Dalam beberapa detik, suasana menjadi liar. Kamera bergetar. Spanduk terguncang. Sejumlah jurnalis menjerit memanggil nama kawan mereka. Di udara, aroma kemarahan bercampur dengan teriakan.
“Saya tidak menyangka bakal ada yang memukul,” ujar salah satu jurnalis yang ikut menghalau penyerang.
“Kami datang dengan bunga, bukan dengan batu.”
Pukul 14:30 WITA, termometer di halaman AAS Building menunjukkan 34 derajat celcius. Angin kering berembus dari arah barat laut.

Aksi Tandingan
Di depan AAS Building siang itu dua barisan saling berhadapan. Di satu sisi, para jurnalis dari Koalisi Advokasi Jurnalis (KAJ) Sulsel menggelar aksi solidaritas untuk Tempo. Di sisi lain, sekitar lima meter dari barisan KAJ, sekelompok yang menamakan diri Sahabat Tani berkumpul dengan spanduk: “Tempo Menyakiti Petani.”
Beberapa teridentifikasi sebagai mahasiswa yang tergabung dalam organisasi.
“Saya lihat ada junior saya di situ,” kata seorang jurnalis televisi swasta yang kebetulan meliput aksi tersebut.
Dari penelusuran Bollo.id, nama Sawaluddin Arief muncul di permukaan. Saat ini, ia menjabat Wakil Ketua Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin yang berkantor di lantai tiga AAS Building. Kebetulan, ketuanya adalah Amran Sulaiman.

Saat demo berlangsung, Sawaluddin berdiri paling mencolok di barisan Sahabat Tani, bertopi caping dan sempat berteriak menggunakan pelantang suara di samping koalisi jurnalis.
Setelah itu, ia naik ke mobil pikap hitam yang dipasangi tiga pengeras suara besar di bagian depannya. Ia mengenakan kemeja berwarna merah dan putih, memegang mikrofon dan berbicara ke arah kerumunan.
“Kita tidak boleh dibodoh-bodohi oleh wartawan yang memberitakan berita bohong,” kata Sawal mengacungkan tangannya ke depan sambil memegang topi caping.
Wawancara Sawal: Penolakan dan Dalih
Beberapa hari setelah insiden, 10 November 2025, Bollo.id mewawancarai Sawaluddin. Ia menolak keras narasi Sahabat Tani sebagai aksi tandingan.
“Saya tidak terima kalau dianggap aksi tandingan,” ujar mantan Juru Bicara Partai Gerindra Sulawesi Selatan itu.
Ia membenturkan alasan personal. Lokasi demo yang dipilih, kata Sawal, mengganggu kehidupan dan pekerjaan banyak orang di gedung itu. Kendati begitu, Koalisi Jurnalis sudah memberikan surat pemberitahuan soal demonstrasi ke pihak kepolisian beberapa hari sebelumnya.
“Kenapa dia pergi demo di situ?” katanya, lalu menegaskan, “Ini milik pribadi.”
Sawal menghitung. Gedung itu menampung ratusan pekerja dan keluarga yang menggantungkan hidup pada aktivitas di dalamnya. Ia berargumen bahwa protes di halaman gedung sama dengan mengganggu ruang cari nafkah.
“Ada 400 orang yang berkantor di situ,” ujarnya.
Saat ditanya soal asal-muasal massa Sahabat Tani, ia memilih memberi kemungkinan spontanitas.
“Itu aksi spontan saja,” katanya, “Saya juga tidak tahu,” ia menambahkan ketika didesak. Namun pantauan lapangan menunjukkan massa itu tiba lebih dulu – lebih dulu dari koalisi jurnalis – dan menunggu kedatangan mereka.
Soal tuduhan adanya muatan politik atau koordinasi terstruktur, Sawal menepisnya.
“Tidak ada,” ujarnya beberapa kali.
Sawal sendiri pernah menjadi pengurus Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Universitas Hasanuddin. Namun ketika disinggung soal etika kritik terhadap pejabat, ia memberi batas.
“Buka seluas-luasnya, tidak boleh dibatasi,” katanya. Namun ia menegaskan syaratnya. “Sepanjang kau tidak kurang ajar.”
Poles-Poles Berita
Sore itu, usai massa aksi membubarkan diri di depan AAS Building, tautan-tautan berita mulai berloncatan di grup-grup WhatsApp dan media sosial. Judul-judulnya seragam menggema.
“Jurnalis Makassar Dipukul saat Aksi di AAS Building,”
“Ada Aksi Tandingan di Depan AAS Building, Dua Orang Dipukul”
“Koalisi Advokasi Jurnalis Diintimidasi Massa Diduga Bayaran” hingga “Aksi Solidaritas Tempo: Ancaman Serius Kemerdekaan Pers”.
Dalam hitungan menit, beberapa media nasional hingga lokal menurunkan laporan peristiwa tersebut.
Sekitar pukul 11:17 WITA keanehan muncul. Beberapa tautan yang semula bisa diakses mendadak hilang dari peredaran. Ketika diklik, laman berita itu menampilkan pesan kering tanpa konteks.
“Maaf, halaman tidak ditemukan.”
Beberapa media lain memilih mengubah judul dan isi beritanya, seolah-olah tak pernah ada aksi yang menyinggung nama pejabat tinggi itu. Beberapa jurnalis sempat menyimpan tangkapan layar salah satu berita yang kini tak lagi bisa ditemukan.
“Biasanya kalau berita dihapus cepat begitu, pasti ada yang menelepon dari atas,” ujar Koordinator Divisi Advokasi AJI Makassar, Sahrul Ramadhan yang sejak awal mendampingi kasus ini.
Fenomena itu bukan pertama kali terjadi, namun jarang muncul serempak di banyak media dalam waktu yang berdekatan. Di saat yang sama, muncul berita kontra-narasi di beberapa portal lain. Alih-alih mengulas substansi aksi, mereka justru membalikkan fakta di lapangan dengan narasi “Pendukung Petani Dipukul Pendemo.”
Narasi lain, “Bela 160 Juta Petani, Mentan Amran Dikeroyok Tempo dan AJI”
“Pola ini bukan kebetulan,” kata Sahrul.
Menurutnya, penghapusan berita dan kemunculan narasi tandingan adalah bentuk represi halus terhadap kebebasan pers.
Di sisi lain, salah satu postingan media sosial AJI Makassar soal demonstrasi tersebut mendadak dipenuhi komentar yang hampir serupa. Totalnya mencapai puluhan ribu dengan narasi memuji kinerja Menteri Pertanian Amran Sulaiman.
“Semangat Pertanian Indonesia.”
“Semangat terus Pak Mentan.”
Pagar Api yang Bocor
Direktur LBH Pers Makassar, Fajriani Langgeng mencatat dengan saksama. Ia melihat pola yang mengkhawatirkan. Bukan sekadar kekerasan fisik. Yang lebih berbahaya adalah serangan sistemik yang datang setelahnya; intervensi ke ruang redaksi, pengubahan judul, hingga penghilangan berita sama sekali.
Semua terjadi dalam waktu singkat. Tekanan datang lewat oknum-oknum ke meja redaksi. Ada yang memaksa take down. Ada yang menyuruh revisi isu.
“Ini pembungkaman kebebasan pers,” kata Fajriani.
“Kemunduran demokrasi.”
Prinsip dasar jurnalisme modern adalah pagar api redaksi. Namun pagar itu kini berlubang. Fajriani menjelaskan bagaimana tekanan langsung ke meja redaksi dilakukan dengan cara-cara yang tak terlihat publik. Dampaknya jelas,media kehilangan independensi.
“Ini intervensi nyata ke perusahaan pers,” ujar Fajriani. Ia menyebut ini sebagai bukti kemunduran setelah lebih dari dua dekade reformasi. Sulawesi Selatan yang pernah dapat nilai baik dalam indeks kemerdekaan pers, kini harus menerima kenyataan pahit.
Tekanan datang melalui berbagai jalur. Ada tekanan langsung ke redaksi. Ada yang menyasar keluarga jurnalis. Akibatnya, beberapa media mengunci akunnya. Redaksi harus mempertimbangkan keselamatan keluarga mereka.
“Ini sering terjadi,” kata Fajriani.
Masalahnya tak hanya pada tekanan eksternal. Struktur kepemilikan media itu sendiri menjadi ancaman. Fajriani menunjuk fenomena di mana media-media dengan kepemilikan seragam tiba-tiba bungkam bersamaan. Semua tak menaikkan berita.
Kepemilikan media oleh figur yang punya relasi bisnis dan politik dengan pejabat publik, menurutnya, menjadi risiko besar. Banyak media online lahir bukan untuk jurnalisme, tapi untuk kepentingan sosial dan kampanye. Akibatnya, media yang mengedepankan fakta kalah dengan media yang tak akurat.
“Itu sudah terjadi beberapa tahun terakhir,” ujar Fajriani.
Publik yang Dirugikan
Di tengah pertarungan ini, publik menjadi korban. Ketika informasi difilter, diubah, atau dihapus, masyarakat hanya mendapat setengah kebenaran. Jika tidak, katanya, informasi akan tergerus dan berdampak pada profesionalisme.
Menurutnya, pukulan yang jatuh di jalanan kepada jurnalis, dan tekanan yang muncul di meja redaksi, pada akhirnya bukan hanya masalah jurnalis. Ini soal hak publik untuk tahu. Dan soal seberapa jauh demokrasi Indonesia masih harus berjalan.
***
Karangan bunga berukuran tiga kali tiga meter itu dibangun untuk mati dua kali. Pertama, ketika seorang lelaki berkaus biru menghantamnya dari belakang, membuatnya roboh berdebam di trotoar. Kedua, ketika sejumlah berita tentang kekerasan itu lenyap dari internet dalam hitungan jam, seolah peristiwa itu tidak pernah terjadi.
Andi Audia Faiza Nazli Irfan berkontribusi dalam tulisan ini.
