Pohon Roboh dan Minimnya Audit Ekologis

Lonjakan 102 pohon tumbang dalam sebulan memunculkan pertanyaan tentang tata ruang dan pengawasan ekologis di tengah laju pembangunan kota.

Ilustrasi pohon tumbang/pexels
Ilustrasi pohon tumbang/pexels

Bollo.id — Hujan deras dan angin kencang yang melanda Kota Makassar sepanjang Januari 2026 menyisakan deretan batang pohon rebah di sejumlah ruas jalan. Dalam sebulan, 102 pohon tercatat tumbang di berbagai kecamatan. Angka itu melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mencatat tingginya kejadian tersebut seiring cuaca ekstrem yang melanda wilayah kota. Berdasarkan laporan masyarakat yang masuk melalui layanan darurat 112 dan aplikasi Lontara+, jumlah pohon tumbang sepanjang Januari mencapai 102 titik.

“Lokasi kejadian tersebar di berbagai kecamatan di Kota Makassar,” kata Kepala DLH Makassar, Helmy Budiman, seperti dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Makassar.

Selain kejadian tumbang, DLH juga menerima 296 laporan pemangkasan pohon dari warga serta mencatat 56 titik penebangan. Secara akumulatif, sejak 1 hingga akhir Januari 2026, total pohon tumbang tetap berada pada angka 102 kejadian.


Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.

Donasi melalui: bit.ly/donasibollo


Menurut Helmy, angka tersebut mencerminkan tingginya risiko akibat hujan lebat yang disertai angin kencang. Pemerintah Kota Makassar, kata dia, menjadikan kondisi ini sebagai perhatian serius dalam memperkuat mitigasi dan respons cepat di lapangan.

“Tentu perlu peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal dan jalur aktivitas harian,” ujarnya.

Prosedur Ketat, Kekhawatiran Warga

Lonjakan kejadian ini memicu kekhawatiran warga, terutama terkait keselamatan pengguna jalan dan penghuni permukiman. Permintaan penebangan pohon di kawasan hunian maupun ruas jalan meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, Helmy menegaskan penanganan pohon tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Setiap tindakan pemangkasan maupun penebangan harus melalui kajian teknis dan pengawasan ketat guna mencegah risiko baru.

Aspek yang dipertimbangkan antara lain arah rebahan batang, keberadaan kabel listrik dan jaringan internet, hingga potensi kerusakan bangunan di sekitarnya. “Pemangkasan wajib diawali survei lapangan dan supervisi teknis oleh petugas berwenang. Penanganan harus aman, terukur, dan bertanggung jawab,” kata Helmy.

Antara Cuaca Ekstrem dan Tata Ruang

Meski faktor cuaca ekstrem tak dapat diabaikan, Dosen Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Hasanuddin, Sri Aliah Ekawati, menilai pohon tumbang tidak semata dipicu faktor cuaca. Menurut dia, terdapat asesmen khusus untuk menilai kesehatan pohon. Mulai dari kondisi akar, pangkal batang, hingga cabang utama yang dilakukan arboris bersertifikasi bersama instansi terkait.

“Ada indikator tersendiri untuk pemeriksaan kesehatan pohon. Itu seharusnya menjadi bagian dari pengawasan sebelum dan sesudah pembangunan,” kata Sri Aliah, Kamis, 12 Februari 2026.

Ia menjelaskan, proses konstruksi dan pembangunan infrastruktur sering kali disertai pemadatan tanah. Kondisi itu mengurangi pori-pori tanah yang berfungsi sebagai jalur air menuju akar. Selain itu, pemotongan akar saat proyek berlangsung dapat menurunkan kemampuan pohon menopang dirinya.

“Ketika akar terganggu dan tanah kehilangan daya resap, pohon menjadi lebih rentan,” ujarnya.

Faktor lain yang memperburuk kondisi tersebut adalah fenomena urban heat island atau efek panas perkotaan. Peningkatan suhu di kawasan terbangun mempercepat penguapan dan menurunkan kadar air tanah. Akibatnya, pohon di kawasan perkotaan semakin kesulitan memperoleh air dan nutrisi.

Kondisi ini memperlihatkan tantangan tata ruang Makassar yang kian padat. Perbaikan jalan, pembangunan gedung, serta penguatan permukaan tanah dengan beton dan aspal kerap berlangsung tanpa integrasi menyeluruh dengan aspek ekologis. Pohon yang seharusnya berfungsi sebagai peneduh sekaligus penyeimbang iklim mikro kota justru berada dalam posisi rentan.

Lonjakan kejadian pohon tumbang pada awal 2026 menjadi sinyal perlunya mitigasi risiko yang lebih sistematis dalam setiap proyek pembangunan. Tanpa perencanaan yang mempertimbangkan daya dukung tanah dan kesehatan vegetasi, insiden serupa berpotensi berulang setiap musim hujan.


Editor: Kamsah Hasan

Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Ia menyukai menulis pertanian, kota, dan penjelasan singkat mengenai sesuatu.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Berita Terbaru

Kebun Panen, Kebun Teror

Intimidasi perusahaan mengubah lahan panen warga di Konawe Selatan menjadi ruang ketakutan yang berkepanjangan.