Jalan Tak Aman, Beban Mental Warga Makassar

Jalan berlubang bukan hanya memicu kecelakaan, tetapi juga menambah kecemasan warga. Pemerintah kota menanganinya sebatas persoalan teknis.

Jalan berlubang di Kota Makassar/Foto: Andi Audia Faiza Nazli Irfan
Jalan berlubang di Kota Makassar/Foto: Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Bollo.id – Jalan berlubang bekerja seperti lampu lalu lintas berwarna kuning. Ia tak pernah benar-benar menghentikan laju kendaraan, tapi cukup memberi peringatan samar: kurangi kecepatan, waspada, atau bersiap celaka. Masalahnya, tak semua pengendara sempat membaca isyarat itu, terutama ketika lubang disamarkan hujan dan gelap.

Di Jalan Hertasning, Kota Makassar, lubang-lubang itu menjadi bagian dari rutinitas. Tri (25), warga Kecamatan Panakkukang, menghafalnya di luar kepala. Jalan itu adalah rute pulangnya sejak kuliah di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin pada 2019. Ia mengenal betul titik-titik berbahaya yang saban musim hujan berubah menjadi jebakan.

Air menggenangi aspal yang retak, menutupi lubang-lubang kecil maupun besar. Dari kejauhan, permukaan jalan tampak rata. Dari dekat, kendaraan bisa oleng atau terguncang keras.

“Banyak mi orang jadi korban kalau hujan,” kata Tri, Jumat, 26 Desember 2025.

Ia termasuk salah satunya. Pernah jatuh, ia sempat menyalahkan diri sendiri. Ia merasa kurang hati-hati. Tapi refleksi itu tak bertahan lama.

“Kedua, kesalahan dari pemerintah yang tidak memperhatikan jalanan itu,” ujarnya.

Tri memilih pasrah. Memutar jalan berarti menambah jarak dan waktu, sementara jalan alternatif pun tak sepenuhnya aman. 

“Lebih baik saya hati-hati sama itu lubang daripada saya mutar jauh, rusak ji juga,” katanya.

Jalan Rusak dan Beban yang Tak Terlihat

Kehati-hatian, nyatanya, tak selalu hadir. Mamat (20) merasakannya di Jalan AP Pettarani. Usai menerima gaji, pikirannya ringan. Rasa senang menutup kewaspadaan. Ia tak melihat lubang di depannya.

Motor terlempar beberapa senti. Tubuhnya menghantam aspal.

“Tangan saya luka-luka, celana robek, HP pecah, barang bawaan saya terseret ke mana-mana,” katanya, Rabu, 24 Desember 2025.

Di kepalanya muncul satu kesimpulan. Korban jalan rusak bukan semata soal kelalaian pengendara. 

“Terkadang pemerintah selalu menyalahkan masyarakat soal cara berkendara. Padahal, sejago-jagonya orang bawa motor, kalau jalannya tidak diperhatikan, jatuh juga,” ujarnya.

Bagi Mamat, memikirkan jalan rusak adalah beban tambahan sebagai warga kota. Ia sudah lelah oleh urusan hidup seperti pekerjaan, ekonomi, tekanan sosial. Jalan, yang seharusnya memudahkan mobilitas, justru menuntut kewaspadaan ekstra.

“Orang-orang yang sudah lelah sama realita dunia, harus lagi waspada sama jalanan yang entah kapan diperbaiki. Itu melelahkan,” katanya.

Dari Luka Menjadi Karya

Kecemasan itu kemudian berubah menjadi karya. Mamat menuangkannya dalam monolog berjudul Aku adalah Lubang, yang dipentaskan di Makassar Perform Laboratory (Maplab) 2025, Sabtu, 20 Desember 2025.

“Aku lahir bukan karena ingin. Aku lahir karena aspal mulai lelah karena cuaca dan oknum nakal bersatu membuatku… retak. Aku ngga minta diciptakan. Aku cuma hasil dari sesuatu yang diabaikan,” begitu intro monolog Mamat.

Lubang jalan, dalam monolog itu, bukan sekadar kerusakan fisik. Ia simbol dari pengabaian yang berulang. Sesuatu yang dibiarkan tumbuh sampai memakan korban, lalu dinormalisasi sebagai risiko sehari-hari.

Negara dan Ukuran Teknis

Pemerintah Kota Makassar melihat persoalan ini dari sudut berbeda. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar, Zuhaelsi Zubir, mengatakan belum ada prosedur khusus inspeksi jalan berlubang saat hujan.

“Pada umumnya dilakukan identifikasi titik genangan air dan penyebabnya yang berpotensi merusak jalan,” katanya, Sabtu, 3 Januari 2026.

Menurut Zuhaelsi, kecelakaan lalu lintas merupakan hasil dari banyak faktor. Kecepatan berlebih, kondisi kendaraan, dan kepatuhan pada rambu juga menentukan. 

“Tanggung jawab ada pada pengendara dan penyelenggara jalan,” ujarnya.

Soal beban mental warga seperti rasa takut, cemas, dan lelah, Dinas PU menegaskan perannya terbatas pada aspek teknis. Dampak psikologis tidak masuk indikator kinerja.

“Fokus kami menjaga kemantapan jalan dan aspek teknis perbaikan. Kami merespons keluhan masyarakat sebagai bagian pelayanan publik,” katanya.

Keluhan dicatat secara administratif. Namun rasa takut warga tidak memengaruhi prioritas perbaikan, kecepatan penanganan, atau alokasi anggaran.

Didengar, Tapi Tidak Diperjuangkan

Di titik inilah jarak antara negara dan warga terlihat jelas. Warga mengeluh karena takut, pemerintah menjawab dengan angka dan prosedur. Seperti pasien yang datang dengan kecemasan, tapi dokter hanya membaca tensi.

Jalan berlubang tidak hanya melukai tubuh. Ia menggerus rasa aman. Sesuatu yang tak tercatat dalam laporan teknis, tapi nyata dirasakan setiap hari oleh pengguna jalan.

Selama lubang diperlakukan sekadar kerusakan aspal, dan bukan kegagalan negara melindungi warganya, perjalanan di kota ini akan terus berlangsung tanpa pernah benar-benar tenang.


Editor: Kamsah Hasan

Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Eks mahasiswa Sastra Indonesia Unhas yang senang hanya dengan interaksi beberapa orang. Sekarang, ia menyukai menulis pertanian atau perkebunan, dan penjelasan singkat mengenai sesuatu. Dirinya yang rentan, dihidupkan oleh beberapa komunitas di Makassar.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Berita Terbaru