Hari Ibu di Tengah Jarak

Di antara kota, rumah, dan ingatan, makna ibu tak pernah benar-benar sama.

Ilustrasi Hari Ibu/Foto: pixabay
Ilustrasi Hari Ibu/Foto: pixabay

Bollo.id – Tas kecil itu sudah tergeletak di sudut kamar Gene sejak sore. Beberapa helai baju dilipat rapi, sebuah buku catatan diselipkan di antara pakaian. Minggu malam, 21 Desember 2025, perempuan 23 tahun itu bersiap pulang kampung dari Makassar. Bukan karena libur panjang atau tiket murah, melainkan karena rindu yang tak lagi bisa ditunda.

“Soalnya terlalu homesick sekarang, ku rayakan dengan pulang,” katanya pelan.

Bagi Gene, Hari Ibu tidak hadir dalam ucapan selamat atau unggahan media sosial. Ia muncul sebagai aroma masakan rumah yang terbayang di sela jam mengajar bimbingan belajar, sebagai suara lembut yang ia simpan di kepalanya saat kota terasa terlalu bising. 


Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.

Donasi melalui: bit.ly/donasibollo


Setelah setahun hidup sebagai individu mandiri di kota, ingatan tentang ibunya justru makin sering menyelinap dalam hal-hal kecil. Saat menyiapkan makan sendiri, saat tubuh lelah sepulang kerja, atau ketika kesepian datang tanpa alasan.

Hari Ibu di Indonesia memang lahir dari ruang yang jauh lebih besar. Kongres Perempuan Indonesia 1928 menandai upaya perempuan merebut ruang dalam pendidikan, politik, dan kehidupan publik. Dari sana, “ibu” mula-mula dipahami sebagai bagian dari perjuangan sosial. Tapi hampir seabad kemudian, makna itu hidup dalam bentuk yang jauh lebih personal—dalam rindu, jarak, dan relasi yang tidak selalu utuh.

Andi, 23 tahun, mengalaminya dengan cara yang berbeda. Ia tumbuh dengan jarak usia yang jauh dari ibunya—jarak yang menurut Setiawan dalam jurnal 2024 kerap melahirkan tingkat kelekatan yang lebih rendah antara orang tua dan anak. Ibunya sibuk bekerja, dan kini Andi sendiri menjalani hidup sebagai manajer keuangan lepas. Ia memahami, bahkan membenarkan, kesibukan itu. 

“Kurasa sekali bagaimana usahanya untuk penuhi kebutuhanku,” katanya.

Namun pemahaman tidak selalu berarti tanpa gesekan. Dalam hubungan mereka, cinta dan pertengkaran datang silih berganti. 

“Banyak hal yang buat ka berdebat, tapi terkadang itu yang bikin sadar kalau kita saling memiliki,” ujarnya. 

Mereka jarang merayakan hari-hari khusus. Tak ada tradisi Hari Ibu, tak ada perayaan ulang tahun yang mewah. Tapi Andi selalu merasa terhubung dengan ibunya—terutama setiap Agustus, bulan kelahiran sekaligus waktu pulang.

Di kota, Gene mengemas rindunya dalam sebuah tas. Di rumah, Andi menunggu bulan kelahirannya tiba. Ibu, bagi mereka, bukan tanggal di kalender—melainkan sesuatu yang terus bergerak di antara jarak dan ingatan.

Di antara keduanya, Hari Ibu tidak lagi berdiri sebagai seremoni seragam, melainkan sebagai ruang sunyi tempat setiap anak menyimpan versinya sendiri tentang seorang perempuan yang mereka panggil ibu.


Editor: Kamsah Hasan

Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Eks mahasiswa Sastra Indonesia Unhas yang senang hanya dengan interaksi beberapa orang. Sekarang, ia menyukai menulis pertanian atau perkebunan, dan penjelasan singkat mengenai sesuatu. Dirinya yang rentan, dihidupkan oleh beberapa komunitas di Makassar.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Berita Terbaru