Bollo.id – Di usia 20-an, generasi Z mulai merambah dunia kerja. Standar sosial dan tekanan hidup menggerogoti pikiran serta perasaan mereka.
Em (24) adalah generasi Z yang memiliki tiga pekerjaan atau multiple jobs. Pekerjaannya padat, begitu pula harinya.
Dalam sebulan, hari-harinya merupakan kombinasi antara menjadi barista, copywriter, dan aktor pertunjukan teater. Pekerjaan itu memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus ruang kreativitasnya.
Setelah bekerja delapan jam, dari pukul 07.00 hingga 15.00, dalam perjalanan pulang ia mulai memikirkan naskah teaternya. Selain itu, ia merangkai kata-kata untuk draf tulisan dan takarir media sosial komunitas sastra.
“Sibuk, capek juga tiap hari, tapi karena ada target maka dijalani saja,” kata Em saat selesai sif kerja, Selasa, 9 Desember 2025.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Ia menyeimbangkan proporsi pekerjaan yang realistis dan idealis. Agar otaknya tidak tumpul akibat stagnasi pekerjaan, ia menyegarkan pikirannya dengan pekerjaan yang menuntut daya kritis.
Pada situasi lain, di tengah kepadatan orang yang mengabdi pada satu pekerjaan, Nurul memilih menjadi pekerja lepas sebagai barista. Ia ingin menyeimbangkan waktu kerja dan luang sambil menjalankan bisnis digital di e-commerce.
“Karena biar sambil dibikin (bekerja), kita bisa juga berpikir tentang diri,” kata perempuan 23 tahun itu pada hari liburnya.
Ia tidak ingin terpaku pada lima atau enam hari kerja untuk sementara waktu. Namun, ia tak bisa menampik realitas dunia yang menuntut kehidupan bekerja.
Menurutnya, menjadi pekerja tetap di sektor informal terkadang memiliki manajemen yang lebih buruk dibandingkan sektor formal. Ia menyoroti ketiadaan umpan balik setelah evaluasi.
Meskipun evaluasi tanpa umpan balik bisa menjadi cara problem solving, uji kemandirian, dan ruang refleksi kerja, baginya pekerja justru akan melakukan perbaikan secara spekulatif jika tidak diberi tahu indikator kesalahan. Beban psikologis sepenuhnya jatuh kepada bawahan.
Saat ini terjadi regenerasi angkatan kerja dari generasi milenial ke generasi Z. Kapan bekerja dan pekerjaan apa yang dipilih bergantung pada strategi masing-masing.
Keadaan sosial mengubah cara generasi Z menilai realitas. Bekerja menjadi hal reflektif: pekerjaan sibuk dengan upah cukup, pekerjaan santai dengan upah sedikit, atau tidak bekerja sama sekali.
Hal itu muncul dalam pikiran dan perasaan Poi (23). Menurutnya, dunia atau negara ini bergerak cepat dan berisik, menekan dengan standar, tuntutan, dan ekspektasi.
Ia menolak dipaksa mengikuti ritme sosial, sehingga memilih secara sadar untuk tidak hanyut dalam arus.
“Toh masih hidup juga, pencapaian,” katanya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh tuntutan, mereka memilih jalan yang berbeda-beda. Ada yang membagi diri dalam banyak peran, ada yang melepaskan ikatan kerja tetap, dan ada pula yang secara sadar mengambil jarak dari arus kompetisi sosial.
Editor: Kamsah Hasan
