Ada ratusan salib kosong seukuran manusia dewasa terpancang di halaman rumah-rumah warga sepanjang jalan menuju Desa Tablolong, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di pucuk salib-salib itu, tertulis kata “INRI” – akronim dari bahasa latin Iesus Nazarenus, Rex Iudaeorum atau dalam Bahasa Indonesia “Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi”.
Dalam kisah penyalipan Yesus, kata itu ditulis atas perintah Gubernur Kekaisaran Romawi masa itu, Pontius Pilate, yang dimaksudkan untuk mengolok sang Juruselamat di hadapan umatnya sekaligus mendeskripsikan “kejahatan”-Nya sehingga Ia dihukum mati. Mahkota duri dipasang di kepalanya untuk mempertegas hinaan itu. Tetapi seiring zaman, akronim itu justru jadi semacam simbol yang menegaskan kehormatan Yesus di mata umatnya.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Catatan sejarah yang menyelimuti lanskap spiritual di Desa Tablolong seakan jadi pemandangan paradoksal bagi turis “asing” seperti saya. Di desa pelosok yang jauh dari peradaban “pusat” ini, pancangan salib di rumah-rumah warganya seakan menyiratkan makna ganda. Di satu sisi, ia mencerminkan kedalaman religiusitas masyarakat NTT. Di sisi lain, ia seperti mengisyaratkan bahwa Tuhan menjadi satu-satunya tempat bersandar di tengah keterbatasan hidup.
Saya tentu tidak berhak menakar religiusitas masyarakat setempat. Namun, pertanyaan justru muncul ketika pengalaman itu berkelindan dengan kenyataan lain: desa-desa terpencil, akses terbatas terhadap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, serta infrastruktur yang belum memadai.
Dan, di tengah itu semua, wisatawan berdatangan untuk mengagumi “eksotisme” pulau ini.
Seperti “INRI” yang mengalami reinterpretasi dalam tradisi Kristen, NTT, dalam konteks berbeda, seakan mengalami nasib serupa ketika ketertinggalannya dipandang sebagai elemen eksotik yang mampu memenuhi selera turis.
Ketertinggalan yang Romantis
Pemerintah mengklasifikasikan NTT sebagai wilayah 3T: tertinggal, terdepan, dan terluar. Dalam kerangka pembangunan, sektor yang dianggap paling potensial untuk mendorong ekonomi daerah adalah pariwisata.
Berbagai narasi promosi wisata bermunculan: keindahan alam, keragaman budaya, hingga wisata rohani. Semua ini tentu memiliki nilai ekonomi. Namun ada paradoks yang sulit diabaikan. Ketika keterpencilan dan “ketidakterjamahan” dijadikan daya tarik, kita berhadapan dengan dilema klasik: antara menjaga “keunikan” lanskap dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Masalahnya, “ketertinggalan” bukanlah suatu hal yang romantis. Persoalan ini merambat ke hal-hal yang paling vital bagi perkembangan daerah; stunting, misalnya. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, NTT memiliki prevalensi stunting sebesar 37,9 persen – salah satu yang tertinggi di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan dasar masih menjadi tantangan serius.
Ketika persoalan-persoalan dasar itu belum tuntas, bertumpu pada sektor pariwisata bisa jadi pilihan riskan. Fenomena over-tourism dapat menjadi ancaman pelik, apalagi jika masyarakatnya tak siap. Mulai dari pergeseran nilai budaya, peningkatan biaya hidup, hingga kerusakan lingkungan.
Contoh paling dekat, Bali. Pulau yang selama puluhan tahun menjadi ikon wisata Indonesia itu kini menghadapi berbagai persoalan: komodifikasi ritual budaya, gentrifikasi kawasan lokal, hingga krisis sampah plastik yang mengancam lingkungan.
Jika tidak dikelola dengan hati-hati, pariwisata yang dimaksudkan sebagai solusi ekonomi justru menciptakan persoalan baru.
Kisah-Kisah Setempat
Di balik panorama alam yang sering dipromosikan sebagai “surga tersembunyi”, masyarakat NTT menghadapi realitas yang jauh lebih kompleks.
Di Desa Tablolong, misalnya, para nelayan harus berbagi freezer berkapasitas 600 liter agar ikan hasil tangkapan mereka bisa tahan lebih lama. Satu freezer bisa digunakan sampai sepuluh nelayan – bahkan lebih. Di desa itu, hanya tersedia empat freezer. Itu pun diperoleh lewat bantuan CSR perusahaan.
Di pulau Flores, cerita serupa juga muncul. Di Desa Nubahaeraka, ketersediaan air bersih menjadi persoalan lama yang belum terselesaikan. Warga bahkan memiliki ungkapan satir: air bersih baru akan datang “ketika kucing bertanduk”.
Di Desa Adat Nua Wogo, Kabupaten Ngada, persoalannya berbeda lagi. Sebagai desa wisata yang diapit hutan dan bukit, keterpencilan jadi tantangan tersendiri. Akses ke rumah sakit, pendidikan, dan ekonomi jadi sulit.
Tua adat setempat, Yohanes Baghi – atau akrab disapa Pak Hans – mengaku khawatir generasi muda tak lagi meneruskan tradisi leluhur mereka. Banyak dari Gen Z Nua Wogo, pada akhirnya, memilih mencari peluang kesejahteraan di pulau seberang, tempat pusat-pusat industri berada.
“Kami desa edu-wisata pertama di sini. Kami berharap ketika (wisatawan) masuk di sini, mereka tidak hanya lihat pemandangan, tapi juga dapat pengetahuan tentang kehidupan kami, rumah di sini, tradisi di sini,” kata Pak Hans.
Namun kenyataannya, jumlah wisatawan yang mampir ke desa mereka semakin anjlok, kata Pak Hans. Desa wisata yang diharapkan menjadi sumber ekonomi baru belum mampu memberikan stabilitas kehidupan bagi warganya. Rayuan program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) dari dan perusahaan-perusahaan BUMN untuk melanggengkan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Pulau Panas Bumi ini mungkin sedikit membantu. Tapi itu belum cukup.
Seorang Mama Nua Wogo – yang tak sempat saya tanyakan namanya – sekonyong-konyong merangkul erat tangan saya. Rindu pada anaknya. Wajah saya yang ke-Timur-an mengingatkannya pada sosok putranya. Anak Mama merantau ke Kalimantan, lima tahun tak pernah pulang. Dapat pekerjaan layak, berkeluarga, dan menetap di Tanah Borneo. Sementara putrinya menikah dengan warga lokal.
Kerinduan Mama bukan persoalan personal semata. Dengan sekitar 1,09 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan dan angka pengangguran terbuka mencapai 92 ribu orang, NTT masuk dalam kategori provinsi termiskin di Indonesia. Terbatasnya lapangan kerja lokal jadi alasan tingginya mobilitas pekerja ke pulau seberang maupun luar negeri.
Antara Iman dan Ketahanan
Di tengah tekanan hidup tersebut, masyarakat NTT tetap menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Kalau berjalan-jalan melintasi rumah-rumah warga, di Kabupaten Bajawa, misalnya, di malam hari, tak jarang terdengar suara karaoke lagu lawas sampai kekinian, dari yang suara sumbang sampai yang merdu aduhai.
Humor juga menjadi cara mereka menghadapi kerasnya hidup. Salah satu candaan populer warga setempat tentang NTT adalah akronim baru: Nanti Tuhan Tolong. Di balik kelakar itu tersimpan realitas yang lebih serius.
Lantas, apakah eksotisme yang kita kagumi itu sebenarnya adalah wajah lain dari ketimpangan pembangunan? Apakah kita sedang meromantisasi ketertinggalan yang justru ingin diatasi oleh masyarakat setempat?
Eksotisme seharusnya tidak membuat kita lupa pada satu hal yang lebih penting: keadilan pembangunan bagi mereka yang hidup di dalamnya.
Editor: Kamsah Hasan
