/

Paskah, Pesta Babi, dan Perlawanan di Tanah Papua

Pembangunan yang Menghapus Ruang Hidup, Iman yang Menuntut Keberpihakan

Ilustrasi Paskah. Foto: freepik
Ilustrasi Paskah. Foto: freepik

Perayaan Paskah kali ini berbeda. Rasanya lebih reflektif dan bergetar saat merayakannya bersama kawan-kawan mahasiswa Papua di Semarang. Kami nonton bareng (nobar) dan berdiskusi tentang sebuah film dokumenter bertajuk Pesta Babi (Pig Feast). Dokumenter investigatif yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Dale ini merupakan proyek kolaborasi sejumlah komunitas gerakan, media, dan LSM/NGO.

Dokumenter ini merekam secara jelas tentang betapa ngerinya gempuran proyek-proyek raksasa pemerintah. Mega proyek pembangunan yang dikemas dengan nama Proyek Strategis Nasional (PSN), kini masuk menggerus hutan Papua. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan narasi besar “ketahanan pangan” dan “transisi energi.” 


Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.

Donasi melalui: bit.ly/donasibollo


Ada ilusi dibalik narasi hilirisasi pangan dan energi yang katanya bersih dan hijau itu. Proyek-proyek PSN di Papua, yang bertujuan untuk memproduksi pangan, sawit untuk biodiesel, dan tebu untuk bioetanol nyatanya telah membuka sekitar 2,5 juta hektar hutan untuk perkebunan industri. Angka demikian menunjukkan sebuah tanda ancaman deforestasi terbesar di era saat ini. 

Ketergerusan kawasan hutan di Papua itu tentunya berbarengan dengan hancurnya keanekaragaman hayati, terpinggirkannya masyarakat adat, rusaknya sistem sosial-budaya dan ekosistem ekologis yang dijaga turun-temurun.

Di wilayah selatan Papua misalnya, beberapa marga dan keluarga yang punya tanah adat berada di garis rentan dalam sebuah pertarungan yang tidak adil dan tidak seimbang. Mereka sangat rentan dan beresiko dikriminalisasi karena berhadap-hadapan dengan proyek pembangunan industri yang dijaga oleh para aparat militer. 

Di Papua, model pembangunan bersifat top-down dan penuh paksaan ini telah mengambil-alih ruang hidup masyarakat, merampas sumber daya alam yang selama ini menopang kehidupan mereka, dan bahkan merenggut tidak sedikit nyawa manusia.

Sialnya, semua itu bersangkut dengan sengkarut kepentingan rezim (pasar) kapitalisme energi global, berkonco(isme) dengan lingkaran elite politik nasional, jaringan keluarga korporat, dan ditopang oleh para pemain lokal. Tragisnya, masyarakat adat Papua sendirilah yang menjadi korban. Atas nama pembangunan mereka ditumbalkan. Atas nama kemajuan, hutan dan identitas mereka diberangus. 

Ketimpangan struktural pembangunan di tanah Papua sudah berlangsung sangat lama. Film dokumenter ini membeberkan fakta-fakta historis, sosiologis, dan relasi ekonomi-politik yang bercokol di sana. Enam puluh (60) tahun operasi militer di tanah Papua, dan bahkan hingga detik ini menunjukkan bahwa bentuk pendekatan pembangunan sangat sarat militeristik. Begitulah cara kerja kolonialisme purba yang nyatanya masih ada hingga saat ini. Celakanya, parade kolonialisasi itu terus berlangsung disana entah sampai kapan selesainya.

Masyarakat adat tidak tinggal diam. Tanah mereka adalah tanah adat yang sakral. Strategi perlawanan pun dibuat dan dilakukan. Mereka kemudian memasang tiang-tiang salib dan palang adat. Sekitar 1.800 salib dipasang di banyak titik. Sebuah salib raksasa turut didirikan. Gerakan ini disebut sebagai Gerakan Salib Merah. Di samping itu, mereka juga mempersiapkan acara Pesta Babi, sebuah ritus dan simbol perlawanan terhadap korporasi dan militer. 

Apa yang bisa kita refleksikan dari momen Paskah ini? 

Paskah bukan cuma berkisah tentang masa penderitaan dan heroisme (kebangkitan) Yesus. Namun, juga tentang tipe-tipe orang di sekitar Yesus dengan sikap dan pilihan yang diambil. 

Ada tipe orang yang tahu tentang ketidakadilan, tapi diam atau pura-pura tidak tahu (seperti Petrus). Ada juga tipe orang yang ikut ambil bagian dalam ketidakadilan demi kepentingan pribadinya (seperti Yudas). Dan ada juga yang punya kuasa untuk bertindak benar, tapi memilih aman dan cuci tangan (seperti Pilatus). 

Lantas, dari ketiga tipe itu, kita diposisi mana? Pertanyaan ini tentu tidak berhenti sebagai renungan personal, tetapi menuntut sikap yang konkret. 

Dalam konteks beroperasinya “rezim pembangunanisme” yang masif terjadi di Papua hari ini, diam bukan lagi posisi netral. Justru, sikap diam itu adalah bentuk keberpihakan yang paling efektif untuk melanggengkan kondisi ketidakadilan. 

Ketika perampasan tanah adat dan ruang hidup masyarakat terus berlangsung, ketika hutan dibabat atas nama kesejahteraan, dan ketika suara masyarakat adat ditekan oleh modal dan aparat, maka pilihan (baik bersuara atau bungkam) memiliki konsekuensi moral dan politik. 

Paskah, dengan demikian, tidak cukup dimaknai sebagai seremoni dan perayaan liturgis yang habis dengan ibadah dan doa. Paskah, pada hakikat dan spiritnya adalah panggilan sadar untuk berpihak, yakni berdiri bersama mereka yang termarginalkan. Mereka yang disalibkan oleh sistem yang tidak adil. Jangan sampai kita menjadi bagian dari kerumunan massa yang turut melegitimasi ketidakadilan itu terus eksis dan langgeng.  

Paskah, sebagaimana momen penghayatan akan kisah kebangkitan Kristus sekiranya menginspirasi semua orang dan semua gerakan pembaruan di Tanah Papua, untuk bersolidaritas terhadap tubuh masyarakat adat Papua yang hari ini menderita dan terus memperjuangkan tanah, hutan, dan martabat hidup mereka.


Editor: Kamsah Hasan

Roberto Duma Buladja

Lahir dan besar di Galela, Maluku Utara. Sekarang berdomisili di Salatiga, Jawa Tengah. Seorang aktivis dan penulis isu-isu sosial, politik, dan ekologis di Maluku Utara dan kawasan Timur Indonesia pada umumnya. Latar belakang studi S2 Sosiologi dan S2 Magister Studi Pembangunan UKSW Salatiga. Sekarang ini bekerja sebagai Dosen Tidak Tetap (DTT) di Program Studi Sosiologi UKSW.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Ceritaan

Maaf, tapi Belum Selesai

Di balik ritual saling memaafkan, lebaran kerap menjadi mekanisme sosial yang menenangkan permukaan, sementara retakan yang sama