Ilustrasi jurnalis perempuan/pixabay
Ilustrasi jurnalis perempuan/pixabay

Di Bawah Ancaman, Ifa Tetap Turun ke Jalan

Kisah jurnalis perempuan di Bulukumba yang menghadapi teror, kekerasan, dan tekanan demi menjaga cerita tetap hidup

Ancaman itu datang lagi, kali ini lewat layar ponsel. Sebuah akun media sosial bernama Choi Choi mengirimkan teror kepada Ifa Musdalifah tak lama setelah ia meliput demonstrasi di Kantor DPRD Bulukumba, Sulawesi Selatan, Rabu pagi, 4 Februari 2026. Pukul sembilan Wita, liputan belum sepenuhnya usai, tetapi intimidasi sudah lebih dulu menyusul.

Bagi Ifa, jurnalis kontributor Metro TV di Bulukumba, ancaman semacam itu bukan hal baru. Sebagai jurnalis perempuan yang lebih dari dua dekade bekerja di lapangan, ia telah berkali-kali berhadapan dengan teror, baik secara langsung maupun lewat ruang digital. Makian di media sosial, permintaan menurunkan berita, hingga pesan-pesan bernada ancaman menjadi bagian dari kesehariannya.

“Saya sudah sering hadapi ancaman, bahkan ancaman langsung,” katanya tenang, seolah mengulang daftar panjang yang tak pernah benar-benar selesai.


Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.

Donasi melalui: bit.ly/donasibollo


Ingatan Ifa melompat ke tahun 2008. Saat itu ia meliput sengketa lahan. Ketika kamera masih menyala, lebih dari empat puluh orang mengejarnya sambil membawa parang. Ia berlari menyelamatkan diri, sembari menjaga agar gambar tidak hilang. Beberapa tahun berselang, menjelang pemilihan kepala daerah, ia kembali berada di situasi genting. Hanya karena disangka pendukung calon tertentu, ia hampir terkena badik.

Ancaman tak selalu datang dalam bentuk senjata. Pada 2010, sekitar pukul sebelas malam, Ifa meliput kasus pembunuhan seorang pemuda dalam relasi sesama jenis. Ia berdiri di depan jenazah, mengambil gambar. Di sekelilingnya, puluhan lelaki berkerumun. Dalam situasi itulah ia merasakan tangan yang merayap ke tubuhnya. 

“Saya langsung berbalik. Banyak sekali lelaki,” katanya. Trauma itu, ia akui, masih tersisa hingga kini.

Sebagai jurnalis perempuan lapangan di daerah, risiko yang dihadapi Ifa berlapis. Bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan seksual, tekanan psikologis, dan serangan berbasis gender. Ia kerap diminta berhati-hati, namun pada saat yang sama tetap dituntut hadir di lokasi-lokasi berbahaya.


Baca juga: Perempuan Jurnalis Dikejar hingga Diancam Dibunuh, saat Meliput Reklamasi Pantai Koyoan


Medan liputan sering kali menjadi ancaman tersendiri. Ifa pernah hampir tenggelam di longsor di Sinjai. Tubuhnya terperosok hingga setinggi dada, sekitar tujuh meter dari permukaan. Ia hanya bisa bertahan karena sebatang kayu yang diberikan rekannya. Pada banjir bandang 2006 di Sinjai, ia harus melewati rumah-rumah yang tertimbun lumpur demi mendapatkan gambar.

Dalam liputan bencana lain, jalan terputus total. Ia berjalan kaki menyusuri pinggir gundukan tanah. Sepatunya licin, tubuhnya nyaris jatuh. Ia sempat berhitung, melompat atau bertahan. Tak ada pilihan yang sepenuhnya aman.

Risiko juga datang dari perjalanan. Sepuluh kali ia pergi meliput kecelakaan lalu lintas beruntun. Tiga kali ia sendiri mengalami kecelakaan, sisanya terjatuh karena kelelahan. Semua itu dilakukan demi mendapatkan gambar yang layak tayang.

Di luar lapangan, tekanan tak kalah berat. Ifa pernah memperjuangkan pendirian gereja Katolik di Bulukumba, daerah yang hingga kini belum memiliki gereja permanen. Sebuah unggahan media sosial tentang indahnya toleransi disalin dan disebarkan ulang. Dari sana, teror bermula. Ia disebut anjing, bahkan ada yang menyatakan darahnya halal. Foto dirinya dan anaknya beredar luas. Selama sepekan, ia memilih membawa anaknya keluar kota demi keamanan.

Hingga kini, gereja itu tak pernah berdiri. Umat Katolik Bulukumba masih harus beribadah ke Bantaeng atau menggunakan rumah sementara. Memperjuangkan hak minoritas, bagi Ifa, selalu beriringan dengan risiko personal.

“Memperjuangkan hak minoritas itu sulit,” tuturnya.

Tekanan juga datang dari dalam lingkaran profesi. Saat ia meliput kasus dugaan makanan berulat di rumah sakit pada bulan puasa, seorang senior memintanya menghentikan peliputan. Kasus itu melibatkan orang dekat pejabat daerah. Ifa tetap melanjutkan liputan dan meminta klarifikasi kepada dinas terkait. Baginya, berita tetap harus jalan.

Selama ini, ia bertahan dengan membangun jejaring sosial yang luas. Ia mengaku banyak dibantu suaminya, juga relasi di lapangan, termasuk mereka yang kerap dicap preman. Selama informasi itu layak diberitakan dan menyangkut kepentingan publik, ia tak ragu mempublikasikannya.

Untuk Ifa, menjadi jurnalis memang berarti hidup dengan risiko. Bahkan jurnalis perang pun menghadapi ancaman serupa. Bedanya, bagi jurnalis perempuan di daerah, ancaman itu datang tanpa jeda. Dari jalanan, ruang digital, hingga ke rumah. Namun setiap kali turun ke lapangan, Ifa tetap membawa kamera. Sebab baginya, cerita di luar sana tetap harus disampaikan.

“Kalau saya tidak liput, siapa yang akan beritakan?”

Ancaman mungkin akan terus datang. Dari jalanan, dari layar ponsel, dari mereka yang tersinggung oleh fakta. Negara belum selalu hadir, redaksi sering jauh, dan perlindungan kerap datang terlambat. Namun Ifa tetap turun ke lapangan, dengan kamera yang sama dan keberanian yang terus dipertaruhkan.

Di daerah seperti Bulukumba, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah pilihan untuk tetap berdiri di tengah tekanan, ketika kebenaran justru dianggap gangguan. Dan selama cerita-cerita itu masih berusaha dibungkam, jurnalis seperti Ifa akan terus ada di sana. Bukan karena tak takut, melainkan karena jika mereka pergi, yang tersisa hanyalah sunyi.


Kamsah Hasan

Kamsah Hasan, jurnalis yang bermukim di Kota Makassar. Ia menulis opini, laporan mendalam, dan kadang puisi—sebagai cara mencari bahasa yang jujur dan berpihak pada manusia.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Berita Terbaru

Kebun Panen, Kebun Teror

Intimidasi perusahaan mengubah lahan panen warga di Konawe Selatan menjadi ruang ketakutan yang berkepanjangan.