Ilustrasi piramida terbalik/Foto: pixabay
Ilustrasi piramida terbalik/Foto: pixabay
/

Piramida Terbalik di Operasi SAR

Ketika negara tersesat dan warga menunjukkan jalan

Warga Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, bernama Arman berusia 38 tahun ikut terlibat dalam operasi pencarian korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung. Ia bukan petugas resmi, melainkan warga lokal yang lebih mengenal jalur terjal gunung itu dibanding siapa pun di tim pencarian.

“Ini jalur ekstrem yang akan kita lalui. Sebentar akan dipandu Pak Arman,” kata Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan, Senin 19 Januari 2026. Kalimat singkat itu menandai satu hal penting. Negara menyerahkan arah langkahnya kepada warga lokal.

Relasi tersebut menyerupai piramida yang terbalik dari bawah ke atas, dari warga ke negara. Pada momen ini, ketergantungan negara terlihat jelas. Sebuah ironi bagi institusi yang selama ini tampak memiliki segalanya, mulai dari teknologi, anggaran, kewenangan, hingga prosedur.


Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.

Donasi melalui: bit.ly/donasibollo


Dalam buku Seeing Like a State, James C. Scott menjelaskan bahwa negara modern hanya dapat bekerja jika dunia dibuat terbaca. Demi keterbacaan itu, realitas disederhanakan, sering kali dengan mengorbankan kompleksitas hidup manusia. Peta, koordinat, dan prosedur menjadi cara negara memahami ruang.

Logika tersebut mengandaikan bahwa pencarian korban bisa dilakukan sebagaimana di medan umum lainnya. Padahal Bulusaraung bukan ruang netral. Ia adalah gunung yang lebih dihafal oleh warga ketimbang negara, dengan jalur licin, tanjakan berlapis, dan tanda-tanda alam yang tak tercantum dalam peta resmi.

Di sinilah perbedaan pengetahuan negara dan pengetahuan lokal tampak nyata. Tim SAR membawa peta, koordinat, SOP, teknologi, dan birokrasi. Warga membawa ingatan medan, pembacaan cuaca, pengetahuan jalur, dan intuisi ruang yang lahir dari pengalaman hidup.

Negara memiliki alat, sementara warga lokal memiliki ruang. Ketika warga memimpin atau menjadi sumber informasi utama, hal itu menandakan negara tak sepenuhnya mampu membaca realitas lapangan tanpa bantuan pengetahuan dari bawah. Relasi ini bukan sekadar kolaborasi, melainkan ketergantungan epistemik.


Baca juga: Membaca Ulang Harapan di Tengah Bencana


Relasi tersebut juga memperlihatkan bagaimana kuasa bekerja. Negara mengandalkan perangkat pengetahuannya sendiri, sementara warga lokal memiliki praktik pengetahuan yang tumbuh dari relasi panjang dengan alam. Dua bentuk pengetahuan ini bertemu, tetapi tidak dalam posisi setara.

Pengetahuan warga lokal melancarkan kerja negara dan memaksa negara untuk mendengarkan. Namun pengakuan itu bersifat situasional. Ia hadir ketika negara berada dalam kondisi kritis, saat sistem formal kehilangan daya bacanya.

Begitu operasi selesai, kuasa kembali ke atas. Yang terjadi hanyalah retakan sementara dalam struktur kuasa yang mapan. Piramida kembali berdiri tegak dengan negara di puncaknya.

Kemampuan spasial warga lokal mencakup ingatan jalur, relasi dengan alam, serta pembacaan tanda-tanda lingkungan. Modal simbolik dan praktis semacam ini tak bisa diproduksi oleh institusi formal, betapapun canggih teknologinya.

Ketika negara mengakui pengetahuan tersebut, terjadi legitimasi dari bawah. Namun pengakuan itu datang dengan syarat tak tertulis, kami akui saat kami butuh.

Ketergantungan negara hanya terlihat dalam situasi darurat. Di luar itu, warga kerap dianggap tak berarti, kecuali ketika negara kehilangan kendali atas realitas yang tak bisa disederhanakan.

Negara tidak selalu paling tahu segalanya. Di balik teknologi dan kebijakan, pengetahuan lokal tetap menjadi pondasi yang tak tergantikan, meski sering kali hanya diingat saat negara tersesat.

Di negeri yang gemar memusatkan kuasa, negara baru benar-benar mendengarkan ketika ia tersesat. Gunung, hutan, laut, dan bencana kerap menjadi pengingat bahwa tak semua pengetahuan bisa dibakukan, tak semua ruang bisa dipetakan, dan tak semua hidup bisa dibaca dari meja kantor. 

Saat keadaan kembali normal, piramida ditegakkan lagi, dan suara dari bawah kembali meredup. Hingga suatu hari, negara kembali membutuhkan arah, dan sekali lagi menoleh ke warga yang selama ini dianggap tak tahu apa-apa.


Editor: Kamsah Hasan.

Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Ia menyukai menulis pertanian, kota, dan penjelasan singkat mengenai sesuatu.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Ceritaan

Hari Ibu Tanpa Negara

Perayaan yang seharusnya merayakan perjuangan politik perempuan justru menjadi alibi untuk menormalisasi eksploitasi sistemik