Bollo.id – Antara pagi yang sejuk dan siang yang terik, Amba menyalakan motornya. Ia bersiap mengantar pesanan makanan ke berbagai sudut Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Dalam perjalanannya, ia melewati barisan pohon di tepi jalan, sesekali menyusuri pesisir dengan angin sore atau cahaya senja yang menyusup dari sela daun.
Setelah menyelesaikan pengantaran di beberapa titik, Amba kerap berhenti sejenak sebelum pulang. Di hadapannya, lanskap hijau terbentang. Cukup untuk mengendurkan otot dan pikiran yang tegang sejak pagi.
Ruang terbuka mengembalikan tubuhnya dari objek kerja menjadi tubuh yang utuh. Pohon memberi teduh saat ia menempuh jalan pulang. Ia menyelesaikan hari kerjanya dengan alam yang belum sepenuhnya hilang.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibolloMeski kawasan tempat tinggalnya masih didominasi tumbuhan, Amba menyadari kehijauan itu tidak hadir begitu saja. Alam selalu bersinggungan dengan keputusan manusia dan arah pembangunan.
“Tapi banyak mi juga di sini pembangunan. Sedikit demi sedikit (pohon) hilang semua mi,” kata laki-laki 25 tahun itu, Senin, 12 Januari 2026.
Bagi Amba, sisa vegetasi di sekeliling kampung pesisirnya masih menjadi penopang pemulihan jiwa. Pohon-pohon berukuran sedang hingga besar memberinya jeda dari kepenatan kerja seharian. Kemewahan yang tak selalu dimiliki pekerja di tempat lain.
Di ruang yang berbeda, Osma (24) pulang kerja dengan lanskap yang nyaris seragam. Enam hari dalam sepekan, ia akrab dengan bangunan bernama kantor. Beton, kaca, dan aspal mendominasi rute pulangnya.
Keberadaan alam di sekitarnya tak lebih dari elemen pelengkap. Pohon hadir sebagai hiasan, terhimpit bangunan tinggi dan panas perkotaan. Ruang hijau kalah bersaing dengan kebutuhan ekonomi dan logika pembangunan kota. Pulang kerja Osma menjadi pengalaman sensorik yang dibentuk oleh pilihan politik dan tata ruang.
Kini, ungkapan “dekat dengan alam” tak lagi menjadi pengalaman sehari-hari. Ia berubah menjadi rencana liburan. Sesuatu yang harus dijadwalkan, bukan dijumpai.
“Berwisata atau sekadar ke tempat baru, kapan ya? Terakhir kali kayaknya lama sekali mi deh,” kata Osma, Selasa, 13 Januari 2026.
Apa yang masih menemani Amba di jalan pulang, telah lama ditinggalkan Osma. Alam tak lenyap seketika; ia disingkirkan perlahan, digantikan bangunan, ritme kerja, dan panas yang menetap.
Mungkin menyayangi alam bukan soal gagasan besar atau jargon keberlanjutan. Ia bermula dari pertanyaan sederhana: siapa yang menemani kita pulang setiap hari, dan siapa yang diam-diam dihilangkan. Apakah alam kita perlakukan sebagai subjek yang dirawat, atau sekadar objek yang dimanfaatkan?
Editor: Kamsah Hasan
