Di kolong rumah panggung, suara kayu beradu terdengar seperti napas yang diatur; tak–tok, tak–tok. Tiga Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) bekerja berdampingan. Pedal diinjak, bilah dihentakkan, pakan disisipkan, kain maju setengah jengkal. Motif atau balo—sebutan masyarakat Wajo—muncul pelan-pelan dari hitungan lusi dan pakan (benang tenun disusun sejajar) yang tak boleh meleset.
Rutinitas pagi di ruang beraroma asap kayu dan pewarna hangat itulah, perempuan Wajo mengikat waktu. Menjaga rumah, mengasuh, sekaligus menenun penghidupan.
Di rumah keluarga Dinar, atau yang dikenal sebagai Haji Nare, pengetahuan itu diwariskan. Perempuan asal Desa Sempange, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, ini tak lagi duduk saban hari di kursi penenun. Usia, banyaknya pesanan, serta tanggung jawab rumah tangga membuatnya beralih peran.

Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Kini Haji Nare lebih banyak mengatur alur kerja, menjaga kualitas, dan merawat relasi. Sejak 2021, usaha tenun dikelola keponakannya, Kartini (29). Ia mencatat pesanan, membagi kerja, memilih warna, memotret kain, dan berkomunikasi dengan konsumen. Jika dulu pembeli datang langsung ke kolong rumah, kini Kartini memasarkannya lewat ponsel.
Haji Nare mengaku belajar menenun sejak kecil. Ia tak ingat kapan tepatnya, hanya tahu bahwa caranya adalah melihat dan meniru dengan tangan.
“Iya metto (saya sendiri). Pettennung mato tomatoae (orang tua juga penenun). Mungkin karena sering melihat, jadi bisa. Dulu, perempuan kebanyakan menenun,” ujarnya sambil tersenyum.
Pewarisan itu sederhana, belajar dengan mata, meniru dengan tangan, menghafal dengan tubuh. Keterampilan tidak lahir dari kelas, melainkan dari kebersamaan di ruang rumah. Anak duduk di samping ibu atau tante, menunggu giliran menyelipkan pakan, atau memperhatikan tangan orang dewasa menenun sembari mengaduk masakan.

Ruang Perempuan, Ruang Produksi
Bagi masyarakat Wajo, kolong rumah panggung adalah ruang kerja keluarga. Namun di rumah penenun, ruang itu khusus menjadi ruang perempuan sekaligus ruang produksi. Di sana, wajan besar memanaskan air; benang sutra putih (ma’cello) dicelup berulang, diangkat, ditiriskan. Jika terik, benang dijemur delapan jam. Jika hujan, butuh tiga sampai empat hari.
Setelah kering, benang dipintal manual atau dengan dinamo, disusun ulang mengikuti balo agar corak sesuai rancangan. Satu lembar kain biasanya selesai dalam satu hingga dua hari, bergantung kerumitan motif dan jumlah pekerja.
Dulu, masih banyak yang menggunakan baddoka—alat tenun yang dipangku dan ditarik dari pinggang. Namun alat itu berat dan melelahkan. ATBM kemudian menjadi tulang punggung produksi karena lebih efisien. Sedangkan ATM (alat tenun mesin) kurang diminati; kerapatan kainnya dianggap terlalu renggang untuk selera pasar sutra Wajo. Di sinilah rasa tangan perempuan berperan, mengukur ketegangan lusi, menghitung jarak pakan, dan menakar warna.
Belajar menenun jarang formal. Anak perempuan biasanya hanya mengintip, duduk di samping, lalu mencoba saat mesin kosong. Kartini pun begitu. Ia sering ‘mencuri waktu’ ketika pekerja beristirahat. Tantangan utamanya benang putus. Di situlah kesabaran ditempa, dan gerak tangan ibu jadi rujukan.
“Peminat kain banyak,” kata Kartini. “Yang kurang itu pekerja.”
Regenerasi memang menjadi masalah. Bukan karena minat tak ada, melainkan karena ruang dan dukungan terbatas. Gadis remaja sulit berlatih tanpa meninggalkan pekerjaan rumah. Dulu keluarga Haji Nare punya 16 ATBM. Kini tinggal sembilan, dengan tiga yang aktif. Sebagian mesin dipindahkan ke rumah penenun desa, agar perempuan tetap bisa menenun sambil mengasuh.
Sejak 2021, Kartini tak sekadar jadi penerus. Ia kini pengambil keputusan; menjaga kerapatan, menentukan motif, dan menyesuaikan warna. “Menenun itu sulit. Kalau bisa dikerjakan, bangga. Dan ini masih menjanjikan,” katanya.

Menjaga Kualitas
Rantai tenun sering rapuh di bahan baku seperti benang. Harganya naik, stok tak menentu. Sutra lokal sempat dicoba, tapi kualitas belum stabil. Karena itu benang diimpor dari Tiongkok dan India. Ketidakpastian ini membuat penenun harus beradaptasi. Mengubah komposisi warna agar lebih padat, menambah kerapatan supaya tak tembus pandang, dan menyesuaikan tenaga kerja agar selembar kain selesai dalam satu sampai dua hari.
“Sekalipun ada uangnya, belum tentu ada barangnya,” keluh Haji Nare.
Di balik keluhan itu ada beban emosi, khawatir pesanan terlambat, cemas pada pekerja yang menunggu upah, atau dilema menjaga mutu dengan bahan tak menentu. Meski kerap dianggap pekerjaan sampingan, menenun justru sering jadi penopang belanja harian keluarga, terutama ketika panen buruk atau upah suami tertunda. Label ‘sampingan’ lebih menggambarkan cara kita menilai kerja perempuan, bukan nilainya.
Di keluarga Haji Nare, dua model kerja terlihat yaitu penenun mandiri (membeli benang, menentukan motif, menjual sendiri) dan penenun pekerja (digaji bulanan, bahan dan motif ditentukan). Pada keduanya, posisi tawar perempuan bertumpu pada tiga hal. Di antaranya akses benang, rasa tangan (mutu), dan pasar. Kartini memperkuat faktor terakhir lewat gawai, memotret, berkabar, menawar, dan mengatur pesanan digital.

Pemerintah daerah menyebut perannya sebagai ‘penghubung’. Misi dagang dengan Kalimantan Timur, partisipasi rutin di Inacraft Jakarta, hingga fasilitasi Bank Indonesia ke pasar luar negeri. Di hulu, pemda membagikan bibit murbei (1 juta pada 2020, 500 ribu pada 2022) dan membangun Sentra IKM di Tosora—dilengkapi mesin pemintal berkapasitas tiga ton per hari.
Upaya hukum–kultural juga ditempuh. Pendaftaran Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dan Indikasi Geografis (IG) Tenun Sutra Sengkang yang kini diverifikasi. Harapannya, harga naik, pendapatan penenun ikut menguat. Namun kebijakan tak bisa menggantikan relasi ibu–anak. Sekolah formal—misalnya ekstrakurikuler menenun di SMP—bisa menjadi pintu baru, tapi tidak boleh menyingkirkan bangku kayu tempat anak duduk di samping ibunya. Di sanalah rasa diajarkan, ketelitian ditanamkan, memori diwariskan.
Menjaga Rasa, Mengikuti Zaman
Kartini membaca tren tanpa kehilangan rasa. Balo bisa sama, tetapi warna mengikuti zaman—hari ini burgundy, besok ungu, lusa hijau. Ia belajar bahwa kerapatan adalah harga diri sutra Wajo.
Ia memadukan warisan tangan (kerapatan, konsistensi, warna) dengan keterampilan manajerial (membagi kerja, mengatur waktu, menyiasati pasokan).
Begitulah perempuan bertransformasi, dari ‘pekerja sampingan’ menjadi arsitek pengetahuan sekaligus ekonomi keluarga. “Selesai, bukan lagi Sengkang kota sutra,” ujar Haji Nare ketika diminta membayangkan Wajo tanpa penenun.
Tradisi, baginya, tidak hilang tiba-tiba, melainkan menyusut jika anak perempuan tak lagi duduk di samping ibu atau tante. Karena itu pesannya sederhana. “Tetap belajar tenun,” ujarnya.
Kalimat itu merangkum kebanggaan sekaligus kecemasan, ekonomi sekaligus budaya, hari ini sekaligus esok. Sebuah ajakan agar ibu dan anak perempuan mempertahankan metode lama—warisan dari mata—meski dunia berubah lebih cepat dari laju pakan–lusi.
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi Bollo.id dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org
Editor: Didit Hariyadi
