Hari sudah gelap. Mata Wa Ode Sitti Murni yang tajam juga mulai redup seiring dinginnya malam setelah diguyur hujan. Ia berusaha tetap terjaga, sebab esok Farmer Field Day digelar di kampungnya, Desa Baluara, Kecamatan Batukara, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
Bersama 19 orang anggota kelompoknya, Farmer Field Day menjadi ajang pembuktian hasil dari pembelajaran Sekolah Lapang Pesisir — Pertanian Terintegrasi yang mereka ikuti. SLP adalah program Yayasan Hutan Biru sejak Januari 2024 hingga Desember 2025.
SLP ini memadukan kegiatan pembuatan kompos, bercocok tanam, sayur-mayur, budidaya ikan, peternakan ayam dan sapi, hingga produksi biogas. Sekolah Lapang Pertanian Terintegrasi laksana pelita malam bagi perempuan 48 tahun ini bersama rekan-rekannya, warga Desa Baluara. Pelita yang diharapkan membawa mereka pada kehidupan lebih baik.
Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.
Donasi melalui: bit.ly/donasibollo
Merantau
“Saya hidup susah. Saya mau jadi penjual beras” ucap Murni mengingat mimpinya saat masih kecil. Matanya berkaca-kaca seolah kembali menyatukan satu demi satu potongan cerita hidup yang telah dijalaninya. Demi mengejar mimpi, tahun 1989, Murni kecil yang hanya lulus sekolah dasar, terpaksa meninggalkan kampungnya menuju pulau Ternate, Maluku Utara.
Di sana sudah menunggu bibinya yang bekerja di pabrik pengolahan kayu lapis. Tanpa bekal keterampilan, ia yakin mampu bertarung hidup dengan tenaganya. Tangan mungil Murni pelan namun pasti menjadi perkasa seiring aktifitasnya melayani makan minum karyawan di kantin pabrik. Sosok gigihnya mencuri perhatian La Ode Arwan, salah satu karyawan bagian produksi.
Laki-laki yang juga asal Muna ini kemudian meminangnya pada pertengahan tahun 2002. Setahun berlalu, hadirlah tangis selamat datang seorang bayi cantik yang diberi nama Sartia. Mahligai keluarga baru ini jadi lengkap. Hari-harinya penuh kebahagiaan. Sampai empat tahun berselang tepatnya tahun 2007, muncul kabar dari perusahaan bahwa pabrik kayu lapis dinyatakan pailit. Kabar ini bak petir di siang bolong. Tahun yang berat bagi para karyawan dan orang-orang yang mengantungkan hidup di kawasan pabrik.
Tak ada lagi senyum dan tawa ceria yang kerap mengawali kerja mereka di pagi hari. Wajah mereka seragam, tatapan kosong dan sesekali tertunduk lesu. Namun dibaliknya ada syaraf-syaraf tegang berpikir keras untuk bisa menyambung hidup. Tidak terkecuali Murni yang 15 tahun berharap rezeki dari para karyawan yang mampir di kantin. Kondisi ini memaksa mimpi juga cita-citanya, tertahan.
Balik Kampung
Coba bertahan hidup di Ternate tidaklah mudah. Murni dan Arwan akhirnya sepakat balik kampung ke Muna tahun 2008. Pada tahun yang sama lahirlah Agustina anak kedua mereka. Bahagia tapi khawatir, campur aduk. Sartia beranjak besar dan akan bersekolah, sedangkan Agustina yang masih balita, butuh asupan nutrisi terbaik. Berbekal sedikit modal, pasangan ini mencari peruntungan di Lawa, Muna Barat. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada proyek pembangunan yang menggunakan jasa Arwan. Ternyata proyek juga membutuhkan juru masak. Kesempatan ini tidak disia-siakan Murni.
Pengalamannya mengurus kantin pabrik kayu, ikut menempanya mahir masak – memasak. Murni pun kembali bekerja meski hanya setahun berlangsung. Tiba–tiba konsentrasi Murni dan Arwan mencari nafkah buyar, anak sulungnya Sartia mulai sakit-sakitan. Berbagai cara pengobatan herbal maupun medis ditempuh, tapi tidak membuahkan hasil. Bahkan bocah 9 tahun ini harus dua kali menjalani operasi pada sebuah rumah sakit ternama di Makassar. Waktu dan biaya hanya untuk kesembuhan Sartia. Satu persatu perhiasan Murni terpaksa dijual.
Sementara tabungan Arwan juga ikut terkuras. Tuhan berkehendak lain, usaha keduanya dijawab dengan memanggil Sartia kembali ke pangkuan-Nya di tahun 2012. Tuhan memilih meringankan rasa sakit berikut keluhan dari bibir Sartia. Derai air mata penuh kesedihan yang dalam tak mampu dibendung. Suara Murni tercekat akibat tangis.
Sedangkan Arwan berusaha tegar menahan beratnya kehilangan sang putri. Untuk kedua kalinya, Murni lagi – lagi terpuruk. Usai pabrik kayu lapis bangkrut memaksa kantin tempatnya berjualan tutup, kini anak pertamanya juga tutup usia mendahuluinya.
Berusaha Bangkit
Sepeninggal Sartia, Murni berusaha bangkit dari pilu. Anak ketiganya pun lahir setahun kemudian atau pada tahun 2013. Seorang bayi laki-laki yang diberi nama Arin. Dalam doa, sang bayi diharapkan berkarakter dan berprilaku sesuai makna namanya dalam Bahasa Arab, yakni keberanian, kekuatan dan perlindungan. Semangat Murni kembali berkobar agar roda ekonomi rumah tangganya berputar. Tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga, meluruskan tekad Arwan merantau ke Malaysia Barat, tahun 2017.
Sementara Murni harus memboyong anak-anak kembali ke kampung halamannya di Desa Baluara, Muna. Memanfaatkan tanah warisan orangtua berukuran enam kali sembilan meter persegi, Ibu tiga anak ini membangun rumahnya. Rumah sederhana berbahan kayu, tempat ia kembali membumbungkan mimpi dan cita-citanya untuk hidup lebih baik.
Bertani menjadi pilihan Murni. Meminjam lahan milik orangtua dan keluarganya yang tidak produktif, ditanamlah pohon kelapa. Sayang di sayang, belum lagi pohon-pohon ini mampu menegakkan batangnya, ia malah jadi santapan lezat babi. Tidak putus asa, Murni kembali menanam kelapa dengan membangun pagar-pagar pelindung. Tapi ada daya, pohon kelapa kembali dimakan babi yang berhasil menjebol pagar. Jauhnya lokasi tanam dengan rumah menjadi kendala pengawasan.
Raut wajah Murni berubah lesu pertanda semangat yang menurun. Tapi ia tidak mau kalah.
“Saya tanam lagi kelapa, tapi dimakan lagi babi. Saya berhenti tanam kelapa karena beberapa saja yang tumbuh. Jadi saya tanam jambu mete,” gumamnya kesal.
Kekesalan Murni terbayar manis, jambu mete dengan bahasa latin anarcadium occidentale, sudah bisa dipanen. Asap dapur rumahnya pun mulai mengepul. Keberhasilan ini coba dilanjutkan dengan menanam jagung. Jagung pun membuahkan hasil. Selain dijual mentah, jagung juga dijual dalam bentuk olahan makanan seperti katumbu. Katumbu adalah makanan khas Muna dari jagung tua atau muda yang ditumbuk halus, terus dicampur gula merah kemudian dikukus.
Berhasil menanam jagung membuat Murni coba menanam sayuran seperti kelor dan terong. Ia tidak lupa menanam buah-buahan seperti pisang juga semangka. Hasilnya cukup menggembirakan sampai dijual ke pasar sekitar, antara lain pasar Labungka dan pasar Baluara. Namun kegembiraan ini tidak berlangsung lama, karena Murni harus kembali membuka lokasi tanam baru.
“Kita tanam tidak pakai pupuk. Dan kalau sudah dua kali panen, kita harus pindah lagi karena tanahya tidak subur,” kenangnya.
Pola ladang berpindah dijalaninya selama 4 tahun. Lelah fisik dan jiwa tak terkira karena ia sendiri mengurus Agustina dan Arin. Sejenak Murni merenung, jiwanya kembali goyah, dan hatinya ikut merintih tatkala mendengar berita dibalik telepon, kalau suaminya Arwan hanya bisa bekerja 8 bulan dalam perantauanya. Arwan keburu ditangkap pemerintah Malaysia lantaran masuk secara ilegal. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga menghantarkan sosok pendiam ini berada di belakang jeruji besi. Hari berlalu menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Buah kesabarannya dibalas dengan kebebasan.
Ujian kehidupan tak pernah menjauh dari Murni dan Arwan. Yang pasti berkumpulnya kembali keluarga ini di tahun 2019, mampu memberikan energi baru. Energi menghadapi masa sulit wabah virus covid 19 yang melanda Indonesia tahun 2020. Mereka membuka harapan dengan lahan baru dan kembali menanam jagung. Tapi tanaman sudah tidak subur lagi. Bahkan dedauanan dan batangnya berhias ulat. Hama yang belum bisa teratasi.
Murni dan Arwan harus kembali mengencangkan ikat pinggang. Beternak ayam dan sapi menjadi ikhtiar. Ikhtiarnya membuahkan hasil, tapi menimbulkan masalah baru. Ternak-ternak yang dilepasliarkan mengganggu tanaman warga. Tubuh ternak–ternak ini juga biasa karena kualitas pakan yang tidak diketahui.
Sekolah Lapang Pesisir Menjawab Masalah
Awal tahun 2024 Yayasan Blue Forest hadir di desa Baluara dengan sosialisasi Sekolah Lapang Pesisir Pertanian Terintegrasi. SLP Pertanian Teritegrasi adalah metode pembelajaran non-formal inovatif. Didampingi fasilitator, pesertanya dibawa langsung ke lapangan untuk memecahkan masalah secara praktis berdasar pengalaman, pengamatan dan diskusi. SLP Pertanian Terintegrasi mengajak warga mengenal desanya lebih dalam dengan ekosistem serta pemetaannya.
Dari sini muncul potensi kegiatan yang akan digelar. Analisa kebutuhan serta kalender musim diperoleh. Alhasil, warga mulai menyusun rencana aksi kegiatannya. Hal ini membuka wawasan berpikir Murni. Ternyata mereka bisa memecahkan masalah Bersama-sama. Satu demi satu masalah yang dihadapi selama ini terjawab.
“Ternyata saya tidak perlu jauh-jauh menanam,” ungkapnya berseri-seri.
Ya, sistem pertanian masyarakat desa Baluara dengan pola ladang berpindah. Sebuah sistem pertanian tradisional, membuka lahan baru dengan membersihkan semak-semak hingga menebang pohon. Biasanya kegiatan ini ditutup pembakaran lahan sebelum penanaman dimulai. Jenis tanamannya juga biasa hanya satu jenis. Jika sudah panen dan tanah dinilai tidak subur, warga kembali membuka lahan baru lainnya.
“Capek buka ladang terus-terusan. Lokasinya juga jauh-jauh. Setengah mati. Susah mengawasinya dari hewan perusak tanaman seperti babi dan sapi,” ungkap Murni dengan mimik serius.

SLP Pertanian Terintegrasi membantunya lebih melek pada lingkungan sekitar. Pekarangan rumah atau lahan tidak terjamah yang hanya dipenuhi rumput dan semak belukar, adalah lokasi terbaik melakukan penanaman. Tergabung dalam sebuah kelompok beranggotakan 20 orang, Murni Bersama rekan-rekannya bahu-membahu membersihkan kawasan yang menjadi lokasi pembelajaran. Dalam lokasi berukuran 40 x 60 meter persegi, ada petak peragaan atau demonstration plot, yang lebih dikenal demplot.
Demplot menjadi sarana memperkenalkan, memperagakan, menguji dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukan. Selanjutnya dibuatlah bedeng. Bedeng merupakan media tanam. Menjaga kualitas bedeng, tanah dibersihkan dari kotoran. Bedeng-bedeng ini mendapat perlakuan khusus karena sesekali digemburkan terus disiram.
Langkah berikutnya pembuatan kompos. Kompos adalah pupuk alami dari sampah dan kotoran yang mampu diurai tanah. Bertahun-tahun menanam, Murni baru sadar kalau tanamannya memerlukan pupuk, sebab selama ini hanya disiram dan dibersihkan dari rumput. Pupuk menjadi asupan nutrisi penting yang menyuburkan tanaman. Kompos pun dibuat. Bahannya tidak pernah lewat dalam pikiran Murni. Air sisa cucian beras, sisa makanan, dedaunan berserakan, batang pisang hingga kotoran sapi.
“Saya senang sekali. Saya bisa tahu buat pupuk sendiri. Sampah dapur bisa kita manfaatkan jadi pupuk,” ucap Murni tersenyum.
Kompos sudah dibuat. Saatnya menanam. Murni dan kawan-kawan mulai menanam sayur-sayuran. Sayur kangkung, bayam, selada, sawi, kacang panjang, terong, labu, mentimun, okra, gambas, wortel, bawang merah, cabai dan tomat. Penanaman selesai, peserta pun menunggu perkembangan hidup sayur-sayuran ini. Menyaksikan tumbuh kembang sayur seperti menyaksikan tumbuh kembang anak sejak bayi. Tatapan peserta seolah tidak ingin melepaskan tiap detik perkembangan, mulai munculnya pucuk menjadi daun, bunga dan buah.

Seiring proses tumbuh selalu ada senyum dan haru terbersit di wajah para peserta. Puncaknya sekitar 3 minggu sampai 2 bulan. Sayur-sayuran akhirnya bisa dipanen. Mata para peserta pun berbinar-binar. Apalagi tampilan sayur-sayur ini lebih segar, warna cerah ditambah ukurannya lebih besar. Selepas panen, waktunya mencicipi sayur. Peserta takjub karena rasa sayur mereka lebih gurih, padat, lagi mengenyangkan untuk dinikmati.
Keberhasilan panen di demplot menguatkan asa peserta untuk memanfaatkan pekarangan masing-masing. Pembelajaran SLP Pertanian Terintegrasi mulai diterapkan. Hasilnya juga sama. Tanaman tumbuh subur, segar, warna cerah dengan ukuran lebih besar.
“Saya tidak perlu lagi beli sayur. Sayur ini lebih bagus dari yang biasa saya beli,” tutur Murni. Sejak rutin mengkonsumsi sayur dari pekarangannya, sakit di persendian tubuh Murni dan Arwan berkurang, bahkan hilang.
“Biasa kalau bangun pagi, kaki saya tidak bisa saya angkat. Sakit rasanya. Mulai makan sayur disini, rasa sakitnya berkurang dan sekarang tidak ada lagi,” ungkapnya gembira. Hal serupa juga dirasakan Arwan, suaminya. “Memang beda. Lutut saya sering sakit. Sejak makan sayur – sayur ini, sakitnya hilang,” kata Arwan meyakinkan.
Tidak hanya manfaat kesehatan dari sayur diperoleh keluarga Murni. Manfaat ekonomi juga didapatkannya. Murni menjualnya ke pasar sekitar kampung. Langkahnya diikuti Maya Sari, peserta SLP Pertanian Terintegrasi lainnya. Bahkan Maya Sari sudah lebih dulu memanfaatkan pekarangannya dengan tanam sayur, tapi tidak bisa mendapatkan hasil maksimal. Pembelajaran di SLP Pertanian Terintegrasi membuatnya makin paham pola tanam yang baik, plusmenghadirkan pupuk murah ramah lingkungan.
“Wah…tanamanku subur-subur. Enak rasanya. Saya jual di pasar,” terangnya.
Murni dan Maya Sari kini rajin menjual panen hasil pekarangannya di pasar. Tidak butuh waktu lama, sayuran mereka langsung ludes. Kualitas sayur desa Baluara mulai dikenal. Pembeli tidak hanya ke pasar tetapi datang langsung membeli ke desa Baluara. Sayang harga sayur berkualitas ini dijual murah.
“Tiap ikat seperti kangkung dan bayam, dua ribu rupiah,” jelas Murni.
Sebenarnya sayur-sayur ini ingin mereka jual dengan lebih mahal, tapi khawatir tidak bisa bersaing dengan sayur dari daerah lain dan ujungnya sayur akan rusak.

Pemanfaatan lingkungan dalam demplot makin ditingkatkan. Fasilitator bersama peserta lalu membuat kandang ayam. Ruangnya lapang agar ayam yang menghuninya bisa hidup lebih leluasa seperti di alam bebas. Maklum, ayam-ayam ini butuh proses adaptasi, sebab sebelumnya dilepasliarkan. Limbah sayur di demplot dikumpulkan dan dimasukkan dalam kandang. Sama halnya limbah rumah tangga.
Limbah-limbah ini menjadi pakan ayam. Ayam pun tumbuh lebih sehat, tahan penyakit serta bobot bagus.
“Harga ayam kampung di sini lumayan. Kalau kondisinya terjaga seperti saat ini, harganya bisa sampai 120 ribu rupiah per ekor, bahkan lebih,” terang Murni. Ada proses alami dalam kandang yang kadang luput dari perhatian. Yakni kegiatan pembuatan kompos. Saat kaki-kaki ayam mengais limbah sayur dan rumah tangga mencari serangga atau cacing, terjadi proses pencampuran bahan-bahan ini. Campuran kompos jadi lengkap saat ayam membuang kotorannya. Kompos baru pun terbentuk dan siap digunakan. Tidak jauh dari kandang ayam, peserta juga membuat kandang sapi. Pakan sapi diambil dari rerumputan, dedaunan dan batang pisang.
Rumputnya gajah dan daunnya gamal atau daun lamtoro. Kotoran sapi juga tidak dibuang. Fungsinya sama seperti kotoran ayam, jadi bahan baku kompos yang baik. Kandang-kandang dalam kawasan demplot, membuka mata Murni lebih luas.
“Saya tidak cemas lagi mengurus ayam dan sapi yang sering merusak tanaman orang. Setiap saat saya memeriksa kondisinya lebih dekat dan mengambilnya sesuai kebutuhan,” katanya lega.
Produksi kotoran sapi setiap hari berlimbah untuk bahan baku kompos. Lantaran masih melimpah, jadi sayang tidak digunakan. Peserta SLP Pertanian Terintgrasi kembali bahu-membahu membangun sistem ternak sapi integrasi biogas. Harapannya memperoleh energi dan bahan bakar alternatif.
Tabung biogas kemudian didirikan tepat dibelakang kandang sapi. Posisinya memudahkan kotoran sapi langsung dimasukkan dalam tabung, terus ditutup. Penutupan tabung memicu proses dekomposisi bahan organik secara anaerobik sehingga menghasilkan gas metan dan gas karbon dioksida. Bagi Murni, dari sekian tahap kegiatan SLP Pertanian Terintegrasi, tahap ini paling mendebarkan. Antara ada dan tiada. Apakah gas bisa muncul dengan apinya berubah jadi bahan bakar dan energi penerang, atau tidak sama sekali?
Lebih sepekan lamanya dalam tabung, api mulai keluar dari kran. Murni masih belum percaya. Knop kompor gas pun diputar memicu pemantik api. Hasilnya mengejutkan. Di sela-sela mata kompor muncul api berwarna biru menari-nari dengan hawa panasnya. Murni pun takjub tak menyangka.
“Pernah saya diperlihatkan biogas waktu studi banding di Bogor. Seperti mimpi, karena kini biogas dengan apinya, betul-betul ada depan mata saya kembali,” ujar Murni sumringah.
Sudut lain demplot tidak dibiarkan tanpa manfaat oleh para peserta SLP Pertanian Terintegrasi. Mereka mendirikan kolam ikan sederhana berbahan terpal plastik. Kolamnya diisi ikan air tawar seperti ikan nila. Untuk pakan, pilihan jatuh pada azolla yang cepat tumbuh lagi subur. Azolla merupakan tumbuhan paku air kaya nutrisi yang tidak hanya baik sebagai pakan ikan, tapi juga pakan ternak. Budidaya ikan adalah hal baru bagi warga desa Baluara, namun mereka mau belajar. Berada di daerah pesisir, masyarakatnya lebih hafal melaut mencari ikan.
SLP Pertanian Terintegrasi disadari Murni banyak merubah dirinya. Meluaskan wawasan berpikirnya dengan menganalisa persoalan lebih detil. Ia pun makin percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Untuk bercocoktanam, beternak dan budidaya ikan, Murni tidak perlu jauh-jauh masuk dalan areal perkebunan. Tidak perlu lagi berpindah-pindah membuka ladang. Tidak kesulitan memperhatikan kondisi tanaman, ternak dan budidaya ikan. Murni juga sudah pandai membuat kompos sebagai pupuk alami yang bahan bakunya bertebaran disekelilingnya.
Kondisi tubuhnya juga makin baik karena ditopang sayuran dan daging organik yang menyehatkan. Bahkan kotoran sapi yang melimpah, mampu memberikan sumber bahan bakar dan energi sehari-hari dengan biogas teritegrasi. Semuanya ada dalam satu tempat, yakni pekarangan. SLP Pertanian Terintegrasi melangitkan mimpi dan cita-cita Murni dan warga desa hidup lebih baik.
Editor: Kamsah Hasan
