Serangga kecil itu sungguh amat merepotkan. Kepakan sayapnya yang cepat menciptakan suara dengung yang mengganggu telinga. Dan nasibnya seperti kecoa, serangga lainnya, yang saat melihatnya akan memunculkan satu keinginan: membunuhnya. Akhirnya, racun antinyamuk menjadi salah satu kebutuhan setiap orang dan keluarga di Indonesia. Dari antinyamuk bakar, oles, hingga elektrik.
Tapi serangga brengsek itu tetap datang dan menembuskan probosisnya ke jaringan tipis kulit manusia. Awalnya gatal, sesaat kemudian rasanya akan dilupakan. Tapi pada beberapa orang dengan kulit sensitif, bekas gigitannya akan meninggalkan bentol.
Tapi tak berhenti di gigitan itu, semua akan berbeda jika nyamuk itu membawa virus dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah. Atau nyamuk itu membawa parasit Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria. Atau bahkan nyamuk yang menggigit membawa cacing filaria (filariasis) yang menyebabkan kaki gajah dan radang otak.
Dan fakta lainnya, di seluruh dunia terdapat sekitar 3.500 jenis nyamuk. Sementara di Indonesia terdapat sekitar 450 jenis nyamuk. Dan sekitar 30 jenis nyamuk Anopheles membawa parasit Plasmodium yang menyebarkan malaria.
Jutaan kematian telah disebabkan oleh nyamuk. Namun khusus malaria, pada tahun 2024 sebuah laporan menyebutkan di seluruh dunia terdapat sebanyak 282 juta kasus malaria dan sekitar 610.000 menyebabkan kematian. “Dulu saya kena malaria waktu sekolah di Sorong, Papua, sekitar tahun 1997,” kata Selpa Malik (44 tahun).
Malik tahu betul bagaimana jika malaria menyerangnya. Panas disertai menggigil, muntah, dan semua persendian rasanya sakit. Reaksi tubuh yang demam dan menggigil inilah yang dikenal sebagai siklus malaria.
Nyamuk yang mememiliki Plasmodium – parasit malaria – ketika menggigit parasit malaria itu memasuki aliran tubuh. Kemudian jantung yang memompa darah, membawa parasit ke hati dan memulai perkembangannya.
Setelah 14 hari, parasit yang sudah berkembang akan keluar dan memasuki sel darah. Di sel darah, fase perkembangan bisa 1 hari, 2 hari, hingga 3 hari. Dan saat parasitnya bertambah banyak, sel darah akan pecah dan rusak, dan kemudian parasit yang keluar akan menginfeksi sel darah yang baru.
Keluarnya parasit dalam sel darah karena rusak itu, meningkatkan reaksi imun tubuh dan akhirnya membuat demam. Dalam tahap ini, ketika parasit keluar dari sel darah, maka digunakannya fungsi obat untuk membunuhnya, sebelum memasuki sel darah baru.
Namun, jika tak dilakukan pengobatan, parasit akan kembali memasuki sel darah baru, dan membuat demam kembali turun. Maka parasit malaria akan terus berkembang hingga menyebar ke seluruh sel darah.

Tapi Malik percaya dan punya obat peredanya. Daun pepaya yang direbus dan airnya yang pahit itu diteguk selama tiga hari. “Kalau sudah begitu, istirahat. Akan kembali segar,” katanya.
Dia tak pernah ke Puskesmas atau rumah sakit. Dan di teras rumahnya, dengan iringan lagu Iwan Fals, dia kemudian memamerkan tanaman pepaya di samping rumahnya yang berdempetan dengan saluran drainase tempatnya tinggal. Malaria itu, kata dia, hanya dari cuaca.
“Saya tidak tahu dan tidak pernah dengar, kalau di Sulbar (Sulawesi Barat) ada malaria,” lanjutnya.
“Tapi memang cuacanya di sini seperti Papua. Panas, lalu tiba-tiba dingin, lalu hujan, dan panas lagi. Jadi berubah secara cepat. Pasti kena malaria itu,” tambahnya. Malik mulai sangsi jika pembawa malaria adalah nyamuk. Sebab, kata dia, semua orang kena gigitan nyamuk, tapi tak semua orang kena malaria. Keyakinan itu semakin bertambah pada empat tahun lalu saat mengunjungi Papua untuk menghadiri pernikahan keluarga.
Di Papua, ketika dia turun di bandara, dia merasakan perubahan cuaca. Sekitar satu minggu di Papua, dia kembali ke Mamuju, Sulawesi Barat. “Saya menggigil dan demam. Kena lagi. Artinya memang karena cuaca,” katanya.
Di Mamuju, dua minggu sebelum kami bertemu, malaria-nya kambuh. Tapi Malik tak sendirian. Puluhan penyintas lainnya di Sulawesi Barat mengatakan malaria bukan penyakit yang sulit diatasi. Pengobatannya bisa dilakukan secara tradisional, menggunakan daun pepaya, hingga mengonsumsi empedu biawak.
Sulawesi Barat, sepanjang tahun 1980 hingga jelang tahun 2000, merupakan wilayah endemis malaria. Ratusan orang terpapar parasit yang dibawa oleh nyamuk jenis Anopheles.
Yahya, antropolog Universitas Hasanuddin, bilang paparan besar itu muncul ketika hutan-hutan di sekitar Sulawesi Barat terjamah.
“Di sana ada praktik logging sejak zaman HPH,” katanya. “Hutan-hutan itu dirambah dan dimasuki oleh alat berat. Kayu besar yang menjadi kanopi hutan hilang,” katanya.
“Lalu orang-orang memasuki hutan dan membuat permukiman di bekas hutan yang sudah dibuka.”

Pemukiman Baru Tanpa Pertimbangan
Tobada’ adalah nama kampung di Kecamatan Topoyo, pusat utama Kabupaten Mamuju Tengah. Kampung ini dulunya bersisian dengan hutan lebat. Namun perlahan pembukaan hutan yang masif kemudian membawa program transmigrasi. Orang-orang ditempatkan di sekitar hutan. Diberikan dua hektare lahan untuk kebutuhan hidup. Tahun 2017, Yahya menggambarkan bagaimana penduduk awal yang menghuni Tobada’ harus menggunakan kelambu dan makan di dalam kelambu.
“Dulu, sewaktu awal-awal kami tinggal di sini, akhir tahun 1985 awal tahun 1986, nyamuknya luar biasa banyak. Kalau malam, nyamuk menyerbu bagaikan tawon yang diganggu sarangnya. Karena banyaknya, kalau malam kita makan di dalam kelambu dan bahkan sering sekali kita makan di dalam kelambu,” tulis Yahya dalam disertasinya, Respon Terhadap Penyakit: Studi Etnografi Perawatan Kesehatan Penderita Malaria di Kecamatan Topoyo, Provinsi Sulawesi Barat.
“Kuda-kuda yang orang bawa dari Polmas untuk digunakan sebagai alat transportasi tidak seekor pun yang dapat bertahan lama. Semuanya mati karena sepanjang malam menggeliat-geliat di kandang akibat terlalu banyak nyamuk yang menggigitnya,” lanjutnya.
Tahun 2012, secara umum di Sulawesi Barat terdapat empat jenis nyamuk Anopheles dewasa dan sembilan jenis pada stadium larva. Masing-masing Anopheles subpictus, Anopheles barbirostris, Anopheles indefinitus, dan Anopheles umbrosus untuk dewasa. Sementara untuk larva ditemukan Anopheles subpictus, Anopheles barbirostris, Anopheles indefinitus, Anopheles umbrosus, Anopheles vagus, Anopheles maculatus, Anopheles annularis, Anopheles tesselatus, dan Anopheles sulawesi.
Namun hingga tahun 2019, melalui Subdit Malaria Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan, terdapat sebanyak 41 jenis Anopheles yang berada di Pulau Sulawesi.

Sementara di Sulawesi Barat ditemukan sebanyak 15 jenis Anopheles. Dan semua jenis Anopheles tersebut berpotensi menjadi vektor malaria. Nyamuk Anopheles dan nyamuk pada umumnya adalah serangga yang hidup di kawasan hutan. Hutan yang sehat akan melahirkan ekosistem dan rantai makanan yang seimbang. Makanan utama nyamuk bukanlah darah. Kebutuhan darah bagi beberapa jenis nyamuk betina diperlukan untuk mematangkan telur. Jadi jika nyamuk tak mengisap darah, maka kehidupannya tetap berjalan, tapi tak bisa melahirkan generasi baru.
Secara umum nyamuk Anopheles dewasa akan menghasilkan sekali bertelur sebanyak 100 hingga 500 butir. Selanjutnya selama 1–2 hari telur akan menetas menjadi jentik atau larva. Kemudian dalam waktu antara 8 hingga 10 hari jentik berubah menjadi pupa. Saat dalam stadium pupa terjadilah proses pembentukan alat-alat tubuh nyamuk. Kemudian dalam waktu 1–2 hari, alat-alat tubuh yang sudah lengkap akan berubah menjadi nyamuk dewasa.
Tapi jentik nyamuk Anopheles berbeda dengan jenis lainnya. Jika jentik nyamuk yang biasa disaksikan selama ini berada di saluran pembuangan perkotaan atau di kubangan bekas sampah, jentiknya bergoyang seperti menggeliat dengan posisi berdiri. Tapi jentik Anopheles tidak demikian, melainkan sejajar dengan permukaan air. Jika tak terbiasa melihatnya, jentiknya hanya serupa ranting dahan yang mengapung.
Sementara usia nyamuk jantan dewasa rata-rata seminggu. Dan untuk nyamuk betina dapat bertahan hingga usia dua bulan. Wilayah jelajah nyamuk Anopheles berkisar antara 2–3 kilometer. Namun dalam keadaan tertentu nyamuk dapat terbawa angin sejauh 30 kilometer.
Namun di antara ratusan jenis nyamuk ada beberapa jenis yang tidak membutuhkan darah untuk mematangkan telurnya. Salah satunya adalah jenis Toxorhynchites. Jentik nyamuk Toxo ukurannya lebih besar dan menjadi predator jentik nyamuk lainnya. Jenis lainnya adalah nyamuk Lutzia, yang jentiknya juga menjadi predator jentik nyamuk Aedes.
Sementara pada rantai ekosistem lainnya, nyamuk menjadi sumber makanan utama bagi beberapa hewan, seperti burung, kelelawar, ikan, katak, capung, hingga laba-laba. Dan secara alami, larva nyamuk berperan membantu mendaur ulang nutrisi di lahan basah.

Di Kalimantan Timur, ketika menyaksikan tim survei nyamuk menangkap dan mencari jentik nyamuk Anopheles, mereka dengan begitu telaten memeriksa kubangan yang memiliki lumut. Perubahan lanskap hutan dan lingkungan memengaruhi perkembangan dan serangan nyamuk. Di Sulawesi Barat, setiap tahun kasus malaria selalu terdata. Sepanjang Januari hingga September 2025, jumlah kasus positif di wilayah ini sebanyak 91 kasus.
Dan pada tahun 2024, sebanyak 40 orang yang terjangkit malaria merupakan penularan lokal di wilayah Pasangkayu. Petugas Dinas Kesehatan Sulawesi Barat mengatakan pendataan kasus lokal itu dilakukan karena saat melakukan pengujian darah, beberapa orang dari komunitas Binggi—salah satu komunitas yang masih menetap hidup di hutan dan sekitar hutan—menunjukkan hasil positif.
“Waktu kami periksa, darah mereka positif Plasmodium. Mereka malaria,” kata Penanggung Jawab Program Malaria Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, Irwan Adi Putra.


Sementara klaim petugas kesehatan mengatakan penularan malaria secara lokal sudah sangat jarang terjadi. Malaria yang terdeteksi di Sulawesi Barat lebih banyak karena penularan impor—atau orang yang terkena malaria di daerah endemis lain kemudian datang ke Sulawesi Barat. Benarkah demikian? Di Kampung Wae Pute, Kecamatan Topoyo, seorang warga bilang pengobatan secara tradisional membantu memulihkan kondisi tubuh pasien.
“Kami gunakan daun dan bunga pepaya jantan. Rebus dan airnya diminum. Begitu saja, tiga hari sembuh itu,” kata Sitti Hanafih (31 tahun).

Hanafih pernah kuliah di Majene dan terserang demam. Badannya menggigil dan semua persendiannya menjadi lumpuh. Keluarga itu meyakini yang menyerangnya adalah malaria. “Itu ciri-cirinya seperti itu malaria. Dulu kan ini tempat hampir semua orang kena malaria, awal-awal kampung dibuka,” kata Hanafih.
“Nah kalau seperti itu, tidak usah ke puskesmas. Bapak buatkan rebusan daun pepaya, obati sendiri saja akan berhenti dan reda itu. Begitu lagi kalau kambuh,” lanjutnya.
Akhmad Wahyuin, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku di Labkesmas Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, mengatakan pengobatan secara tradisional memang meredakan efeknya, tapi tidak membunuh parasit atau Plasmodium yang ada dalam darah manusia.
“Jadi itu hanya sesaat. Suatu saat bisa kambuh lagi,” katanya.
Plasmodium adalah jenis parasit yang menyebabkan penyakit malaria. Masing-masing Plasmodium Falciparum yang menyebabkan malaria tropika. Plasmodium vivax menyebabkan malaria tertiana. Plasmodium malariae menyebabkan malaria kuartana. Plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale. Dan Plasmodium knowlesi yang menyerang binatang.
Tapi Isra Wahid, seorang dokter di Universitas Hasanuddin Makassar, mengingatkan penyebaran Plasmodium knowlesi. “Sekarang penyebarannya masih dari nyamuk ke monyet ekor panjang, tapi mungkin saja seperti ini awal mula malaria berkembang,” katanya.
Isra Wahid meneliti nyamuk sejak tahun 2009. Di lantai 4 Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, dia mengepalai Laboratorium Entomologi dan Animal. Pada suatu siang ketika kami berjumpa, dia penuh semangat membagi kisahnya tentang nyamuk. “Siapa yang peduli nyamuk. Nanti kalau sakit karena nyamuk, baru mulai khawatir. Tapi setelah sehat, tidak peduli lagi,” lanjutnya.
Isra tertawa. “Ingat, manusialah yang mendatangi habitat nyamuk. Jadi manusia mengganggu rumahnya.” Saya terdiam. Dia menghentikan kalimatnya sesaat.


Anti Nyamuk Makin Beragam, Nyamuk Tetap Menyerang
Amar Asraf (48 tahun), seorang transmigran asal Timor Leste, ingat betul tahun 1999 pertama kali menghuni Kampung Makarti di Desa Harapan, Kecamatan Malili, Sulawesi Selatan. “Pohon-pohonnya besar dan hutan lebat. Kami sampai tidak mengerti mau bagaimana hidup. Parang yang diberikan dinas transmigrasi itu kecil, tidak bisa menebang pohon,” katanya. “Datang ke sini seperti dibuang ke dalam hutan. Nyamuknya besar dan banyak sekali. Sampai susah untuk menghindar,” lanjutnya.
Beruntung Amar tak pernah terserang malaria. Tapi istrinya, Sitti Hermina, beberapa kali terserang. “Saya beberapa kali masuk rumah sakit karena malaria,” katanya. “Biasanya ke Puskesmas Malili, itu bisa dirawat sampai empat hari. Tapi sekarang sudah, beberapa tahun sudah tidak pernah lagi kambuh. Dan sekarang sudah banyak obat nyamuk juga,” lanjutnya.
Sekarang Kampung Makarti sudah terbuka. Jalannya sudah beraspal dan rumah berderet dengan rapi. Kampung itu dapat dijangkau melalui jalan darat sekitar 30 menit dari Kecamatan Malili, yang juga merupakan pusat Kabupaten Luwu Timur.
Tahun 2023, Dinas Kesehatan Luwu Timur mencatat sebanyak 1.003 orang suspek malaria. Dan sebanyak 69 orang dinyatakan positif malaria. Dan sekarang wilayah ini sedang dikepung oleh pertambangan nikel. Melalui skema Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui PT Indonesia Huali Industrial Park (IHIP), dengan lahan yang dimohonkan seluas 978,245 hektare dalam proses pengembangan. Nilai investasinya mencapai Rp221 triliun dan diperkirakan akan menyerap sebanyak 40.000 tenaga kerja.
Amar di Kampung Makarti bilang luasan itu sepertinya akan menghabisi semua hutan di sisi kampung. Dan kemungkinan nyamuk-nyamuk yang masih membawa malaria, kata Amar, berada di kawasan hutan itu.
“Seperti dulu di kampung ini pertama. Pasti bahaya orang kena malaria kalau masuk ke hutan lagi,” katanya.
Rumitnya mencegah penularan malaria diakui banyak peneliti. Publikasi di The Conversation Indonesia tahun 2018 menuliskan bahwa dari total 258,9 juta penduduk Indonesia tahun 2016, seperempatnya atau sekitar 64 juta penduduk hidup di daerah dengan risiko sedang hingga tinggi untuk malaria.

Namun tingginya angka penderita hingga berkembangnya obat antinyamuk, evolusi nyamuk pun ikut berkembang. Beberapa jenis nyamuk mengembangkan kekebalannya terhadap obat antinyamuk. Dan bahkan telah terjadi resistensi terhadap obat malaria jenis klorokuin di Indonesia.
Maka melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5/MENKES/PMK/I/2013 tanggal 7 Januari 2013 tentang Pedoman Tatalaksana Malaria menggunakan Artemisinin-Based Combination Therapy (ACT). Ruli, seorang penyintas malaria dari Papua, bilang obat yang dikonsumsinya dikenal dengan nama obat biru. Ruli (27 tahun) kena malaria tertiana dari Plasmodium falciparum dan vivax di Timika pada Februari 2023.
Dia menjalani perawatan dengan mengonsumsi obat dihydroartemisinin–piperaquine (DHP), kombinasi obat malaria yang disarankan pemerintah. Dalam sekali konsumsi dia menelan empat butir. Ruli orang Bugis. Sementara di Papua aktivitasnya membangun menara seluler ke beberapa daerah pedalaman. Pada Juli 2023, suatu waktu ketika pulang ke Makassar, pesawatnya mengalami penundaan berangkat. Akhirnya sampai di Makassar siang dan sudah lapar.

“Saya sudah gemetaran dan mulai menggigil. Jadi saya langsung masuk Rumah Sakit Ibnu Sina. Diagnosisnya adalah tifus,” katanya. “Jadi empat hari di rumah sakit, saya disuntikkan parasetamol saja. Saya sudah sesak dan susah napas.”
“Akhirnya saya bilang kalau saya dari Papua dan pernah kena malaria. Jadi saya minta obat biru (DHP), tapi rumah sakit bilang tidak tersedia. Jadi saya pesan obatnya sama teman di Papua. Hari ketiga di rumah sakit obatnya datang sore. Saya minum langsung empat. Hari keempat, besoknya, saya sudah baikan dan keluar dari rumah sakit.”
Selanjutnya pada Januari 2025, malaria-nya kembali kambuh ketika berada di Jakarta. Di rumah sakit diagnosis awalnya sama, tifus. Tapi kemudian setelah pengambilan darah, dia ketahuan malaria. “Saya beli obat biru (DHP) di Shopee, harganya Rp170 ribu. Setelah minum, baru kembali baikan,” katanya.
Bagi Ruli, terkena malaria sangat menyakitkan. Panas tubuhnya bisa mencapai 44 derajat. “Macam mau mati. Tulang dingin semua, baru badan panas. Sendi-sendi ini macam mau lepas semua,” lanjutnya.
Isra Wahid bilang Plasmodium atau parasit yang dibawa nyamuk bertahan pada suhu sekitar 30 hingga 40 derajat. Dan Indonesia sebagai wilayah tropis sangat baik untuk perkembangan itu. “Lalu apakah di luar negeri tidak ada nyamuk Anopheles pembawa malaria? Jawabannya ada. Tapi parasitnya mati,” katanya.
Jadi ketika seorang warga negara asing terkena malaria di Indonesia, dia tetap membawa parasit malaria itu ke negara asalnya. Dan bila di negara asalnya ada nyamuk Anopheles yang bisa menjadi vektor menggigitnya, Plasmodium itu akan berpindah ke nyamuk. “Tapi nyamuk yang telah menjadi vektor itu tidak bisa menularkannya ke orang lain, karena nyamuk mengikuti suhu lingkungan,” lanjut Isra.
“Saat musim dingin, yang suhunya bisa di bawah 20 derajat, atau bahkan bisa menjadi minus, maka Plasmodium itu akan mati. Jadi parasit malaria akan berhenti di satu orang dan nyamuk awal itu saja.”

Isra Wahid kemudian menyandarkan punggungnya di kursi. Dia menarik sedikit napas. “Apakah nyamuk bisa kita musnahkan?” kata saya. “Tidak bisa. Nyamuk itu serangga, bagian dari ekosistem. Mengendalikan dan memahaminya dengan baik akan membuat kita makin berhati-hati,” jawabnya.
“Sekarang penyakit yang disebabkan nyamuk itu programnya 3M—membersihkan, menguras, dan mengubur wadah yang bisa dihinggapi jentik. Tapi got tak pernah dibersihkan, di situ jauh lebih banyak nyamuk,” saya menggerutu.
“Kalau nyamuk itu habitatnya hutan, sekarang hutannya dibabat dijadikan tambang atau diganti sawit,” saya melanjutkan. Isra Wahid bilang, “Kalau ada perusahaan, nyamuk memang tak pernah masuk dalam kajian AMDAL. Mungkin sudah seharusnya kita berhenti mengeksploitasi alam secara berlebihan,” katanya.

Editor: Didit Hariyadi
Tata Letak: Kamsah Hasan
